Dari Langkah Kaki Menuju Refleksi Diri di Tindak Ziarah Pringgolayan Bantul
Kegiatan Tindak Ziarah #4 di Priggolayan Bantul menghadirkan perjalanan spiritual dan refleksi hidup bagi para peserta.
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Relawan motoris bertugas membantu pengamanan jalur dan mengawal peserta selama perjalanan.
Sementara itu, relawan kesehatan secara aktif memantau kondisi peserta dan memberikan pertolongan jika ada yang mengalami kelelahan. Kehadiran tim relawan menjadi bukti bahwa perjalanan ini dibangun atas semangat pelayanan.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari para donatur yang membantu menyediakan perlengkapan seperti bendera start, rompi relawan, serta konsumsi tambahan berupa semangka dan ubi.
Sesampainya di Taman Doa Wajah Kerahiman Allah Pajangan, peserta langsung disambut suasana hening dan damai.
Banyak peserta memanfaatkan momen tersebut untuk duduk tenang, berdoa, dan merefleksikan perjalanan yang baru saja mereka lalui.
Bagi sebagian peserta, perjalanan panjang tersebut menjadi simbol perjalanan hidup manusia. Dalam hidup, manusia sering kali menghadapi tanjakan, rasa lelah, bahkan keinginan untuk menyerah.
Namun harapan dan tujuan membuat manusia tetap mampu melanjutkan langkah.
Panitia menyampaikan kegiatan berjalan lancar, aman, dan penuh kebersamaan.
Meski terdapat beberapa hal yang menjadi bahan evaluasi, secara keseluruhan kegiatan dinilai berhasil menghadirkan pengalaman positif bagi seluruh peserta.
Meski demikian, pengurus menegaskan bahwa tidak ada target kompetitif dalam kegiatan ini.
Setiap peserta dihargai atas keberaniannya mengambil langkah dan mencoba bertahan sesuai kemampuan masing-masing.
Melalui Tindak Ziarah #4, Komunitas Tindak Ziarah berharap semakin banyak orang menyadari pentingnya perjalanan rohani di tengah kesibukan hidup modern.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kenyamanan, tetapi kadang lahir dari perjuangan bersama.
Para peserta pulang dengan kaki pegal dan tubuh lelah, tetapi hati yang terasa lebih tenang dan penuh semangat.
Banyak dari mereka bahkan sudah menyatakan siap mengikuti peziarahan berikutnya.
“Perjalanan ini mungkin melelahkan tubuh, tetapi justru memeluk jiwa. Saya ingin ikut lagi,” kata salah seorang peserta. (*)