Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Sosok F, Eks Artis Terlibat Sindikat Scammer Internasional di Solo, Bertugas VC Korban

Polda Jateng bongkar sindikat love scamming & pig butchering di Solo Raya, libatkan mantan artis, rugi Rp41,1 miliar.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Sosok F, Eks Artis Terlibat Sindikat Scammer Internasional di Solo, Bertugas VC Korban
HO/IST
SCAMMER INTERNASIONAL - Polda Jateng bongkar sindikat love scamming & pig butchering di Solo Raya, libatkan mantan artis, rugi Rp41,1 miliar. 

Namun polisi memastikan perempuan tersebut diamankan saat penggerebekan dan mengakui tugasnya melakukan video call dengan korban sesuai arahan jaringan.

Baca juga: Mengapa Indonesia Rentan Jadi Safe Haven Scammer?

Terungkap dari Patroli Siber

Kombes Himawan menjelaskan pengungkapan kasus ini berawal dari patroli siber yang dilakukan Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah.

"Dari hasil patroli siber kami menemukan ada indikasi kegiatan penipuan online yang dilakukan di wilayah Solo. Kemudian kami lakukan pendalaman terhadap aktivitas yang dilakukan oleh mereka," kata dia.

Penyelidikan kemudian mengarah ke sebuah perusahaan bernama PT Digi Global Konsultan di kawasan Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo.

Menurut hasil penyidikan, perusahaan tersebut digunakan sebagai tempat perekrutan pekerja sekaligus kantor operasional jaringan penipuan yang dijalankan secara terorganisasi.

Sindikat tersebut disebut kerap berpindah lokasi untuk menghindari perhatian masyarakat maupun aparat penegak hukum.

Mereka menyewa kantor dan sejumlah rumah kos yang digunakan sebagai pusat operasi sementara.

Rekomendasi Untuk Anda

"Kalau aktivitas mereka mulai diketahui warga, biasanya mereka akan pindah lagi untuk mengaburkan posisi mereka melakukan kegiatan," kata Kombes Himawan.

Modus Menjual Hubungan Asmara Palsu

Polisi menyebut modus yang digunakan adalah pig butchering, yakni penipuan dengan membangun hubungan emosional secara intensif sebelum korban dibujuk menginvestasikan uangnya.

Para pelaku mencari target melalui aplikasi kencan seperti Tinder, Puf, dan Boo, serta platform media sosial seperti Facebook.

Asisten marketing bertugas mencari dan menyaring calon korban. Setelah korban merespons, komunikasi diserahkan kepada marketing yang menggunakan identitas palsu untuk membangun kedekatan emosional.

Sebagian besar operator bahkan disebut merupakan laki-laki yang menyamar sebagai perempuan.

Ketika korban mulai percaya dan meminta panggilan video, model perempuan asli kemudian ditampilkan.

Video call tersebut menjadi salah satu kunci keberhasilan sindikat dalam meyakinkan korban bahwa sosok yang selama ini berkomunikasi dengan mereka benar-benar nyata.

Korban yang telah terikat secara emosional kemudian diarahkan untuk melakukan investasi kripto melalui platform perdagangan palsu yang dikendalikan jaringan pelaku.

Sesuai Minatmu
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas