Gunung Karangetang Siaga Level III, Berikut Informasi Resmi Erupsi dan Imbauan untuk Warga
Badan Geologi melalui Twitternya @kabargeologi, menyampaikan informasi terbaru aktivitas Gunung Karangetang per Selasa (5/2/2019) sore
Penulis: Facundo Chrysnha Pradipha
Editor: Pravitri Retno W
TRIBUNNEWS.COM - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Twitternya @kabargeologi, menyampaikan informasi terbaru aktivitas Gunung Karangetang di Pulau Siau, Sulawesi Utara.
Informasi diunggah akun Twitter @kabargeologi pada Selasa (5/2/2019) sore.
Selain berisi seputar erupsi, informasi terbaru yang diunggah perihal ancaman bahaya hingga imbauan kepada masyarakat lantaran Gunung Karangetang berstatus Siaga atau Level III.
Baca: Gunung Karangetang Sulut Muntahkan Lava Panas ke Kali, Ratusan Warga di Sitaro Mengungsi
Laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)
Erupsi terakhir Gunung Karangetang terjadi pada tahun 2016 di mana pusat erupsinya saat itu di Kawah Utama (Kawah Selatan) dan ancaman bahaya utamanya berupa guguran lava maupun awan panas guguran ke arah Timur-Tenggara dan Baratdaya.
Dua tahun tidak erupsi, kini G. Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018 dimana aktivitasnya berpusat di Kawah Dua (Kawah Utara), dengan deskripsi sebagai berikut.
1. Kegempaan G. Karangetang meningkat
Gunung Karangetang mengalami peningkatan signifikan aktivitas kegempaan dengan konten frekuensi tinggi (vulkanik dalam maupun dangkal) secara cepat sejak 22-23 November 2018 lalu.
Peningkatan kegempaan ini diikuti oleh penurunan drastis aktivitas kegempaan frekuensi tinggi pada 24 November 2018.
Penurunan tajam kegempaan frekuensi tinggi diikuti oleh terekamnya citra panas (Hot Spot) oleh satelit Modis pada 25 November 2018 pukul 01:10 WITA, sehingga dapat disimpulkan bahwa penurunan tajam kegempaan frekuensi tinggi mengindikasikan bahwa magma telah sampai ke permukaan kawah.
Sejak saat itu, efusi lava yang disertai pertumbuhan kubah lava hingga guguran lava dan awan panas guguran terus berlangsung.
2. Gempa dengan frekuensi rendah
Kegempaan Gunung Karangetang didominasi gempa dengan konten frekuensi rendah yang berkaitan dengan aliran fluida magmatik dari kedalaman hingga ke permukaan.
Dua bulan terakhir kegempaan hembusan maupun guguran terus terekam dengan jumlah yang berfluktuasi antara sekitar 30 hingga 240 gempa per hari.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.