Artis Ini Ternyata Memiliki Masa Lalu yang Pilu, Ini Kisahnya
Jika kamu sering menonton tayangan sinteron di Televisi Indonesia, pasti kamu tidak asing dengan artis satu ini.
Editor:
Sugiyarto
Kalau sedang di rumah, Bapak sering mengajak kami main, membersihkan kolam lele atau berkebun di depan rumah. Beliau memang lebih dekat dengan anak-anak perempuannya. Tapi, bukan berarti aku tak dekat dengan Mamak, lho."
Batak Betawi
"Karena ingin mengubah nasib, Bapak dan Mamak memutuskan pindah ke Jakarta. Bapak juga ingin kami bisa mengenyam pendidikan tinggi agar tak mengikuti jejaknya menjadi supir. Ketika itu tahun 1979, aku masih berusia tiga tahun. Kami sekeluarga diboyong ke Jakarta, tepatnya di bilangan Jati Asih, Bekasi. Lingkungan tempat tinggalku yang baru ini agak berbeda. Banyak warga keturunan Betawi, yang juga berbaur dengan suku Batak Karo. Teman-temanku pun bertambah banyak.
Meski beda budaya, tapi aku gampang saja bergaul dengan mereka. Namanya juga anak-anak, hampir setiap hari main di luar rumah. Lama-lama aksen Sumatera-ku berubah jadi ala Betawi. Bersama teman-teman baruku, aku main masak-masakan, gambaran orang-orangan, main di kali, hujan-hujanan, karet gelang, adu biji karet, dan tentu saja yang menjadi favoritku main rumah-rumahan. Meski bermain terus, dari kecil orangtua kami sudah memberi tanggung jawab dan kepercayaan. Kalau sudah jam 7 malam, semua sudah ada di rumah untuk belajar dan tidur.
Pekerjaan Bapak di Jakarta juga tetap menjadi supir. Dengan penghasilan beliau, bisa dibayangkan seperti apa kondisi ekonomi keluargaku. Rumahku terbuat dari papan triplek. Kalau hujan, atap rumah bocor. Walaupun hidup serba pas-pasan, tapi kami semua harus tetap bersekolah. Aku juga tetap bahagia dan tak merasa miskin. Bagiku kekayaan yang tak ternilai adalah kasih sayang dan kehangatan keluarga. Aku tak pernah minder atau iri dengan teman-teman lain.
Aku menamatkan pendidikan dasar di SD Jati Asih Kota. Jaraknya tak jauh dari rumah. Masa sekolahku rasanya biasa-biasa saja. Aku bukan termasuk murid yang pintar di kelas, tapi juga bukan yang paling bodoh. Buktinya aku selalu naik kelas. Pernah, sih, aku dapat nilai merah di rapor untuk pelajaran matematika. Tapi, Bapak tidak marah. Ketika tiba giliran menunjukkan rapor bersama abang dan adik, Bapak hanya memandang lekat-lekat nilai merah itu lalu memintaku membaca pesan guru yang ditulis di buku rapor. Isinya agar lebih giat belajar. Caranya sederhana tapi cukup menyentil agar aku tak mengulang kesalahan yang sama.
Orangtuaku memang tidak pernah banyak omong menyuruh atau menasehati keenam anaknya. Mereka lebih menunjukkan teladan melalui perbuatan. Misalnya, kalau sedang marah Bapak tak pernah menunjukkan emosinya di depan kami. Kalau ada masalah dengan Mamak, pasti Abangku yang pertama langsung tanggap dan mengajak adik-adiknya main ke luar rumah untuk nonton di bioskop. Pesan Bapak yang aku ingat adalah kesopanan. Selain itu, kami diajarkan untuk tidak mengambil hak orang lain dan menyayangi sesama."
Menguntit Pengunjung Bioskop
"Selepas SD, aku melanjutkan sekolah di SMP Jati Asih. Beberapa sahabatku menikah karena orangtuanya tak mampu membiayai sekolah. Aku tetap senang bermain. Terutama jika akhir pekan, karena waktunya lebih longgar. Malam hari biasanya aku keluar rumah untuk nonton di bioskop. Hobiku ini dilakukan bersama teman-teman. Kami nonton film di dekat rumah, namanya Bioskop Adi.
Dulu tiap membeli satu karcis seharga Rp 300, orang dewasa boleh membawa satu anak kecil. Karena tidak punya uang lebih untuk nonton, aku sering menguntit pengunjung bioskop yang datang sendirian. Aku cuek saja meski tak kenal. Yang penting aku terlihat seperti anaknya dan bisa masuk ke dalam untuk nonton gratis. Sampai-sampai penjaga tiket hafal dengan wajahku. Ha ha ha..
Karena saat itu banyak film action Indonesia, idolaku adalah Barry Prima dan Advent Bangun. Mungkin karena salah satu dari mereka wajahnya mirip Bapak.
Keceriaanku sempat hilang saat Bapak meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Saat itu aku kelas 1 SMP. Setelah pulang kerja, beliau mengeluh sakit. Usai diobati keesokan paginya, tak lama beliau meninggal. Kenanganku bersama Bapak memang terasa sangat singkat. Sedih sekali karena beliau begitu penyayang dan dekat denganku. Setelah beliau tiada, Mamak menjadi kepala rumah tangga. Kehidupan jadi makin berat dan susah, tapi Mamak tak menyerah. Beliau mencari uang sebagai makelar tanah. Sambil kuliah Abangku yang tertua pun kerja sampingan. Puji Tuhan, kami tak perlu pulang kampung dan semuanya bisa sekolah hingga lulus."
Bingung Kuliah
"Ketika mulai masuk SMU, keluargaku pindah rumah. Aku lalu bersekolah di SMU 1 Pondok Gede. Di masa itulah, aku baru menemukan ketertarikan di bidang seni. Aku ikut ekskul musik daerah dan senang terlibat kegiatan ini-itu. Oh ya, aku juga ingat, saat pelajaran Bahasa Indonesia, aku disuruh membaca dialog dan mendapat pujian guru karena tekniknya benar. Ternyata pelajaran itu berkaitan dengan seni peran. Mungkin karena aku terbiasa menonton adegan film sejak kecil. Ha ha ha..
Saat kelas 1 SMU, hanya ada sembilan orang perempuan di kelas. Aku pun mulai memiliki geng. Disebutnya geng trouble maker karena anggotanya "ramai". Padahal kami tak pernah cari masalah, lho, hanya selalu bertingkah konyol dan berani. Kalau mau jalan-jalan untuk irit ongkos, kami menumpang mobil bak. Pernah juga aku dipanggil guru BP karena memakai rok di atas dengkul. Tapi, besoknya dijahit lagi.
Baca tanpa iklan