Artis Ini Ternyata Memiliki Masa Lalu yang Pilu, Ini Kisahnya
Jika kamu sering menonton tayangan sinteron di Televisi Indonesia, pasti kamu tidak asing dengan artis satu ini.
Editor:
Sugiyarto
Di SMU aku juga mulai naksir lawan jenis. Tapi aku tidak pernah pacaran selama sekolah, makanya kalau malam minggu lebih sering di rumah. Masa-masa remaja aku habiskan dalam kesederhanaan. Aku bergaul tanpa pilih-pilih teman, sebaliknya teman-temanku pun menilai aku dari pribadiku, bukan dari latar belakang ekonomi.
Saat kelulusan SMA tahun 1995, rok dan baju habis dicorat-coret.Meski merayaan kelulusan dengan heboh, dalam hati aku sebenarnya bingung. Aku tak tahu mau meneruskan kuliah jurusan apa. Aku merasa tidak ada minat di satu bidang khusus. Meski begitu, aku tetap ikut UMPTN dan sempat lolos di salah satu perguruan tinggi negeri di daerah. Tapi tidak aku ambil karena merasa tidak sreg dengan jurusan psikologi. Melihat gedung kampus yang menjulang tinggi saja aku tak tertarik. Biaya kuliah, kan, juga tak murah. Pokoknya saat itu aku tak tahu mau jadi apa nantinya dan kuliah dimana."
Selepas SMU, aku bingung mau kuliah di jurusan apa. Setiap hari sebelum tidur, aku berdoa kepada Tuhan agar memberi jawaban, di mana tempat terbaik untukku menimba ilmu. Doaku terjawab di suatu pagi. Kakak perempuanku menawari kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), karena ia juga senang seni. Saat itu aku tak tahu sama sekali apa itu IKJ? Ketika datang untuk melihat kampusnya di Cikini, wah, aku langsung jatuh cinta dan ingin sekali kuliah di sana. Aku terpesona dengan bangunan dan suasananya yang berbeda dari perguruan tinggi lain.
Karena mencari jurusan yang biaya kuliahnya paling murah, aku memilih teater. Tak apa, yang penting aku bisa kuliah di kampus ini, pikirku saat itu. Saat ujian masuk D3 Teater, aku diberi tes dialog dan monolog. Aku semangat sekali berlatih. Namun, diuji oleh Didi Petet dan Sofia WD membuatku deg-degan setengah mati. Apalagi ditonton banyak senior. Ini, kan, pengalaman pertamaku di panggung teater. Ketika tiba pengumuman, namaku tercantum sebagai mahasiswi yang lolos seleksi. Senang sekali rasanya karena jurusan teater memang selektif, hanya menampung 19 orang."
Operator Idaman
"Di awal perkuliahan, aku kaget juga karena kegiatan kampus berlangsung dari pagi sampai sore. Akhirnya aku memilih kos dan pulang ke rumah setiap akhir pekan saja. Meski "tua" di kampus karena capek latihan, tapi aku menikmati sekali masa-masa ini. Kuliahku dibiayai Abang, makanya aku bertekad harus lulus dengan nilai baik. Lingkup pergaulan juga kuperluas. Tak hanya bergaul dengan sesama anak teater tapi juga mahasiswa dari bidang musik, sinematografi, tari, audio visual. Prinsipku, kuliah harus serius tapi santai. Santai tapi serius. Kalau terlalu serius bisa gila. Kalau terlalu santai nanti drop out. Ha ha ha..
Seni peran, olah tubuh dan dapur teater adalah bidang studi yang paling aku suka. Memainkan peran di panggung teater juga aku suka. Aku pernah memerankan perempuan baik-baik, ibu-ibu sampai jadi pelacur. Bersama teater IKJ aku melakukan pementasan di berbagai kota di Indonesia bahkan hingga ke Malaysia. Aku sempat cuti satu semester karena menunggu teman-teman yang belum lulus salah satu mata kuliah. Pasalnya, untuk ujian akhir kami harus pentas bersama kelompok di hadapan para dosen. Untuk membunuh waktu luang, kadang aku pentas, pantomin, ikut teman bikin video klip, dan sandiwara radio. Tahun 1998 aku menamatkan kuliah dan diwisuda tahun 2002. Senang rasanya melihat Mamak bisa datang mendampingiku, meski Bapak telah tiada.
Sambil menunggu wisuda, aku sempat ikut sandiwara radio. Disutradarai dosenku, sandiwara ini direkam di studio audio Pospro dan disiarkan ke seluruh Indonesia. Karena jumlahnya ratusan episode, mau tak mau hampir setiap hari aku ke studio itu. Di situlah aku bertemu operator audio, Robertus Bobby Ratno Setyanto. Seperti pepatah Jawa "witing tresno jalaran soko kulino", karena sering bertemu lama-lama kami saling suka dan pacaran. Untungnya ia tipe orang yang diam, cocok dan sesuai pria idamanku. Setelah dua tahun berpacaran, kami menikah pada 2006 silam."
Sandal Copot
"Lulus kuliah aku kembali bingung. Tak terbayang olehku, dengan ijazah teater, akan diterima bekerja dimana? Tak mungkin terus mengikuti hobi atau idealisme di atas panggung. Salah satu dosen favoritku di kampus menyemangati. Katanya, industri perfilman dan pertelevisian di Indonesia pasti bangkit, sehingga peluang dalam pencarian pemain berbakat terbuka lebar. Aku sempat ikut teater Putu Widjaya dan Renny Jayusman. Tapi, untuk memenuhi kebutuhan hidup, aku juga butuh penghasilan lebih.
Dan, mulailah aku ikut casting sinetron. Dari info sana-sini aku bersama teman-teman sesama lulusan teater rajin mendatangi Production House (PH). Pertama kali menjajal casting, banyak sekali cerita lucu yang kualami. Aku pernah berangkat casting ramai-ramai naik kopaja. Tiba di lokasi, sandal cantikku copot. Jadi aku harus pinjam sandal teman yang sudah selesai di-casting. Ha ha ha... Ada-ada saja, ya? Biasanya, bila lolos dan sudah dapat honor, aku pakai untuk modal casting berikutnya. Aku malu bila minta uang ke Mamak atau Abang untuk ongkos, beli baju, make up, dan jajan.
Suatu ketika, aku mencoba peruntungan casting di PH milik Arswendo Atmowiloto. Ketika jalan pulang, ada kru yang meneriakki aku. Katanya aku disuruh langsung ambil naskah. Wah, tak disangka aku diterima. Sinetron Incen adalah debut pertamaku berakting di layar kaca. Disutradarai langsung oleh Mas Wendo, aku berperan sebagai ibu-ibu Betawi untuk dua episode. Syuting berlangsung di Depok. Setelah selesai, aku pamit, eh, besoknya aku ditelepon untuk meneruskan peran yang sama. Lumayan dapat 13 episode dan tayang seminggu sekali.
Pertama melihat diriku muncul di teve, bangganya bukan main. Mamak dan teman-teman juga demikian. Honor pertama aku berikan ke Mamak dan beli jam tangan yang aku idam-idamkan. Karena sedang tren sinetron Betawi, selanjutnya aku kembali terlibat di sejumlah judul yang berbeda.
Tahun 2003, aku kembali ikut casting di PH Sinemart. Salah satu sutradara sedang mencari karakter pembantu rumah tangga yang antagonis. Pencarian pun dilakukan di kampus IKJ. Aku ikut dan lolos mendapat peran untuk dua episode di sinetron Kisah Sedih di Hari Minggu. Begitu selesai, ternyata porsi peranku diperbanyak. Aku pun beradu akting dengan Meriam Belina dan Marshanda memerankan Bik Tum, pembantu rumah tangga yang jahat tapi konyol. Dari situlah aku mulai intens berperan dalam sinetron panjang.
Peranku sebagai pembantu cukup menyita perhatian pemirsa dan berkesan. Karena karakternya jahat, nyinyir, menyebalkan, tapi konyol. Selanjutnya, peran pembantu lain juga aku dapatkan. Walau orang mengenal peranku di sinetron sebagai pembantu rumah tangga, tapi karakternya beda-beda. Ada yang jahat, baik, konyol, bahkan genit. Walau ada juga skenario yang membuatku bergidik karena peranku sangat jahat. Namun, semua itu harus dijalani. Risikonya, setiap bertemu penonton, ada saja ibu-ibu yang mendamprat karena kesal melihat aktingku di sinetron. Aku hanya tertawa-tawa saja menanggapinya."
Baca tanpa iklan