Artis Ini Ternyata Memiliki Masa Lalu yang Pilu, Ini Kisahnya
Jika kamu sering menonton tayangan sinteron di Televisi Indonesia, pasti kamu tidak asing dengan artis satu ini.
Editor:
Sugiyarto
Penonton Setia
"Dulu, belum banyak sinetron stripping, jadi waktu syuting masih agak longgar. Ketika terlibat dalam Anak Cucu Adam, barulah aku merasakan syuting kejar tayang. Motivasi utamaku bermain sinetron sebenarnya untuk mencari uang, bukan ingin menjadi artis terkenal atau mengharap penghargaan. Semua semata karena bidang yang bisa aku lakukan adalah seni peran. Inginnya, sih, suatu saat nanti aku mendapat peran sebagai hero di genre action. Menurutku, cerita dan karakternya pasti akan sangat menantang. Aku sendiri juga memang suka film action dan drama.
Mamak adalah penonton setia setiap sinetron yang kubintangi. Beliau juga sering memberi masukan atas aktingku. Maklum, bakat seni memang mengalir karena ia senang menulis, menyanyi, dan menganalisa cerita. Sedangkan almarhum Bapak senang main suling dan menari. Kami memang lahir dari keluarga pecinta seni. Makanya setiap sinetronku tayang perdana, aku selalu tanya padanya. Pernah juga ia heran mengapa aku genit sekali di sinetron yang kubintangi, ha ha ha... Namanya juga akting, Mak!
Di samping sukanya, ada pula dukanya main sinetron, seringkali aku pulang jam 3 pagi sambil naik motor. Rasanya mata ini harus diganjal agar tetap melek. Nah, saat ini aku masih terlibat di sinetron Putri Yang Ditukar. Meski harus kejar tayang, aku tetap fleksibel membagi waktu. Kegiatan sehari-hariku, ya, syuting di lokasi. Jika libur di hari Minggu, aku kumpul bersama Mamak, kakak, keponakan, dan tentu saja dengan suamiku.
Untungnya, karena suamiku juga bekerja di industri kreatif dan seni, rasa saling pengertian soal profesi di antara kami sudah terjalin sejak pacaran. Kadang, bila aku syuting, suami menemani atau menjemput saat pulang. Bila sedang libur, kami sering makan di luar atau nonton bioskop, tetap seperti hobiku saat kecil. Aku belum memiliki momongan. Yang penting rumah tanggaku langgeng. Karier dan keluarga berjalan baik dan sama-sama sukses. Kami saling percaya dan selalu saling mendukung.
Aku selalu menjalani hidup layaknya air mengalir. Tak ada obsesi tertentu. Aku hanya ingin berakting semampuku, sampai kapanpun dunia ini akan kujalani. Seni peran sudah menjadi bagian hidupku dan kuanggap sumber kehidupan. Selebihnya adalah bonus. Puji Tuhan hingga kini aku sudah terlibat dalam belasan judul sinetron. Meskipun ini bukan mimpi masa kecilku, tapi aku bersyukur bisa diberi rezeki yang besar. Senang rasanya bisa membantu keluarga. Bisa membeli barang-barang yang dulu hanya bisa kulihat saja.
Mungkin suatu saat aku akan berbisnis sebagai antisipasi bila tak lagi aktif di dunia seni peran. Makanya, pendapatanku juga disisihkan untuk investasi. maunya, sih, aku ingin berakting sampai tua seperti Nanny Wijaya. Banyak orang yang sangsi pada masa depan seniman, tapi keluargaku justru mendukung. Untunglah orangtuaku tak pernah memaksa. Mereka menyerahkan tanggung jawab pada diriku. Hanya, Mamak selalu berpesan agar aku tetap rendah hati. Artis, kan, manusia juga, hanya bedanya dikenal oleh pemirsa. Begitulah prinsipku menjalani hidup ini." (Ade Ryani)
Baca tanpa iklan