Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun Seleb
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Aa Gym Sebut Teh Ninih 7 Kali Turun Mesin, Komnas Perempuan Angkat Bicara

Pernyataan pendakwah Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym yang menyebut Teh Ninih sudah tujuh kali turun mesin memantik respons Komnas Perempuan.

Aa Gym Sebut Teh Ninih 7 Kali Turun Mesin, Komnas Perempuan Angkat Bicara
KOLASE TRIBUNPONTIANAK.CO.ID
Pendakwah Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym dan Teh Ninih 

TRIBUNNEWS.COM - Pernyataan pendakwah Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym yang menyebut Teh Ninih sudah tujuh kali turun mesin memantik respons Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).

Adapun ucapan Aa Gym tersebut viral di media sosial setelah diunggah oleh sejumlah akun Instagram.

"Ini adalah istri yang sudah 19 tahun mendampingi saya. Sudah tujuh kali turun mesin (melahirkan), hehe," ungkap Aa Gym dalam rekaman yang diunggah akun Instagram @mak_inpoh, Senin (7/6/2021) lalu.

Belum diketahui secara pasti kapan dan di mana Aa Gym melontarkan pernyataan itu.

Adapun Komnas Perempuan mengimbau semua pihak, khususnya pejabat publik, pesohor dan pemuka/tokoh masyarakat, untuk menghindari kekerasan psikis atau kekerasan verbal/simbolik dan pelecehan seksual kepada perempuan, serta turut mendukung pemulihan korban.

Baca juga: Gofar Hilman Diduga Lakukan Pelecehan Seksual, Komnas Perempuan Apresiasi Korban Buka Suara

"Sebagai ungkapan yang digunakan untuk menggambarkan kondisi tubuh perempuan, “turun mesin” merupakan istilah peyoratif, yaitu sikap yang merendahkan, menghina atau mencemooh," ungkap Komisioner Komnas Perempuan, Bahrul Fuad, kepada Tribunnews, Kamis (10/6/2021).

Komisioner Komnas Perempuan, Bahrul Fuad atau Cak Fu.
Komisioner Komnas Perempuan, Bahrul Fuad atau Cak Fu. (Instagram/bahrulfuad)

Istilah ini, lanjutnya, rekat dengan cara pandang yang seksis, yaitu merendahkan harkat kemanusiaan berdasar jenis kelamin. Juga, cara pandang yang menempatkan perempuan sebagai obyek seks,

"Dalam hal ini imaji tentang keperawanan dan elastisitas kelamin perempuan yang dikaitkan dengan kepuasan atau kenikmatan laki-laki dalam  berhubungan seksual."

"Dengan demikian, “turun mesin” merupakan bentuk kekerasan verbal/simbolik terhadap perempuan yang berdampak psikologis yang negatif terhadap perempuan," ungkapnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Wahyu Gilang Putranto
Editor: bunga pradipta p
Sumber: TribunSolo.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas