Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Lifestyle
LIVE ●

Pernah Dihantui Perasaan Bersalah Saat Libur? Psikolog Beri Penjelasan

Libur sejatinya untuk istirahat. Namun, sebagian orang justru merasa bersalah ketika memiliki waktu luang atau tidak melakukan apa-apa. 

Tayang:
Diperbarui:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
zoom-in Pernah Dihantui Perasaan Bersalah Saat Libur? Psikolog Beri Penjelasan
Gemini AI/Tribunnews
ILUSTRASI LIBURAN - Gambar dibuat di Gemini AI, Rabu (17/9/2025). Prompt Gemini AI untuk edit foto seperti liburan di luar negeri seperti ke Jepang, Mesir, Hawaii, New York, Italia, dll. Pengguna cukup copas prompt. 

Semakin sering seseorang merasa bersalah, semakin sulit ia benar-benar beristirahat. Akibatnya, performa kerja justru menurun.

Baca juga: Psikolog Soroti Psikis Raisa yang Gugat Cerai Hamish Daud, Singgung Konflik dan Tekanan

Irma mengingatkan bahwa perasaan bersalah itu perlu “di-counter” dengan pikiran yang lebih afirmatif. 

“Jadi di-counter kembali pikiran rasa bersalah itu dengan pikiran lain yang afirmatif tadi. Karena otak itu bekerja berdasarkan apa yang kita bilang sama dia. Kalau kita bilang, enggak apa-apa boleh kok, itu kan sesuatu yang oke kan,” jelasnya.

Ia menambahkan, tubuh dan pikiran kita akan mencari arah sesuai dengan apa yang sering kita ucapkan pada diri sendiri. 

“Sebenarnya enggak apa-apa, enggak harus sibuk banget. Nanti dia akan mencari cara untuk kita relax,” tambahnya.

Ketika Semua Hal Terasa Penting, Diri Sendiri Jadi Terlupakan

Rasa bersalah saat libur sering kali muncul karena kita merasa semua hal mendesak untuk diselesaikan. 

Namun menurut Irma, ketika semuanya dianggap prioritas, justru tidak ada yang benar-benar penting.

Rekomendasi Untuk Anda

Irma menekankan pentingnya memberi ruang bagi diri sendiri untuk berhenti sejenak. 

Sama seperti kalimat dalam paragraf, hidup juga butuh “spasi”. 

Belajar Pelan, Berhenti, dan Mengobrol dengan Diri Sendiri

Irma menjelaskan bahwa melambat bukan berarti malas, melainkan cara untuk kembali selaras antara otak, tubuh, dan perasaan.

Ia menyarankan agar setiap orang membangun kebiasaan “ngobrol dengan diri sendiri” setiap hari.

“Ngaduk dengan memperlambat. Justru memperlambat harimu ya,” tuturnya.

Dalam pendekatan yang disebutnya sebagai somatik, Irma menjelaskan pentingnya menyadari sinyal tubuh, dari napas yang pendek, otot tegang, hingga mudah tersinggung. Semua itu tanda bahwa tubuh meminta jeda.

Menghentikan Kebiasaan Menghakimi Diri Sendiri

Salah satu penyebab utama munculnya rasa bersalah adalah kebiasaan self-judgement atau menghakimi diri sendiri. 

Hal ini disampaikan oleh Wellness practitioner Rahne Putri saat ditanyai oleh Tribunnews. 

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas