Buku Aurelie Moeremans dan Sikap KPAI di Masa Lalu yang Diungkit, Ini Respons Kak Seto
Ramainya buku Broken Strings yang ditulis Aurelie Moeremans ikut membawa nama Kak Seto. Psikolog anak ini mendadak ikut disorot.
Penulis:
Fauzi Nur Alamsyah
Editor:
Anita K Wardhani
“Pada masanya, setiap pendampingan dan pernyataan disampaikan berdasarkan pengetahuan dan kerangka pemahaman yang berlaku saat itu,” tulis Kak Seto, dikutip Tribunnews.com, Kamis (15/1/2026).
Kak Seto mengakui standar perlindungan anak saat ini menuntut kepekaan dan kehati-hatian yang lebih tinggi, terutama dalam melihat potensi manipulasi, tekanan emosional, serta ketimpangan kuasa dalam relasi yang melibatkan anak dan remaja.
Ia menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk manipulasi, relasi tidak setara, dan praktik child grooming.
“Anak tidak pernah berada dalam posisi setara untuk dimintai pertanggungjawaban atas relasi yang dibangun melalui ketimpangan kuasa,” tegasnya.
Kak Seto juga menghormati keberanian pihak yang memilih bersuara mengenai pengalaman masa lalu, termasuk Aurelie Moeremans.
"Anak tidak pernah berada dalam posisi setara untuk dimintai pertanggungjawaban atas relasi yang dibangun melalui tekanan, bujuk rayu, atau ketimpangan kuasa," bebernya.
Ia juga mengajak publik menyikapi isu ini dengan empati demi memperkuat sistem perlindungan anak di Indonesia.
"Kami menghormati keberanian siapapun yang memilih untuk bersuara atas pengalaman masa lalunya, dan memandang suara tersebut sebagai pengingat penting agar sistem perlindungan anak terus diperbaiki, diperkuat dan semakin berpihak pada kepentingan terbaik anak," lanjutnya.
Kisah Aurelie Moeremans dan Jalan Buntu Mediasi di KPAI
Dalam klarifikasinya, Kak Seto menegaskan bahwa ia dan lembaga tersebut sudah berupaya keras menyelesaikan kasus artis Aurelie Moeremans.
Kak Seto menegaskan jika upaya pernah dilakukan melalui Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada rentan waktu 2009 hingga 2010.
KPAI berusaha menjembatani komunikasi antara keluarga dan pihak pria yang bernama samaran “Bobby”, namun dalam prosesnya tidak membuahkan hasil.
Dalam kesaksian terbarunya, Aurelie mengungkap bahwa dirinya sempat menyampaikan keterangan yang tidak sesuai fakta karena berada dalam situasi tertekan.
Ia mengaku menerima ancaman serius, mulai dari intimidasi fisik hingga ancaman penyebaran foto pribadi, yang membuatnya memilih bungkam saat diperiksa.
Ia berharap pihak yang terkait dengan masalah tersebut berdamai dan kembali menata masa depan.
(Tribunnews.com/Fauzi/Anita K Wardhani/Grid.id)