Bacakan Pleidoi, Ammar Zoni Sebut Rutan Salemba Sarang Narkoba
Ammar Zoni awalnya mengira Rutan Salemba adalah lingkungan steril yang akan membantunya pulih dari kecanduan narkoba. Ternyata dugaannya salah.
Penulis:
M Alivio Mubarak Junior
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Ammar Zoni dalam pleidoinya mengklaim Rutan Salemba menjadi sarang narkoba. Barang haram justru sangat mudah didapatkan
- Dikatakan Ammar, transaksi narkoba di Rutan Salemba adalah hal yang lumrah dan bisa dilakukan dengan sangat gampang
- Ammar berharap Majelis Hakim dapat melihat kondisinya sebagai seorang pecandu yang membutuhkan lingkungan yang tepat untuk pulih, bukan hukuman yang justru menjerumuskannya lebih dalam
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ammar Zoni menyesali perbuatannya karena telah tiga kali terjerat kasus dugaan penyalahgunaan narkoba.
Di kasus yang ketiganya, ia ditahan di Rutan Salemba yang menurutnya jauh memperburuk keadaan.
Bukan sebagai tempat untuk rehabilitasi, mantan suami Irish Bella ini mengklaim Rutan Salemba menjadi sarang narkoba, di mana barang haram justru sangat mudah didapatkan.
Ammar menceritakan, awalnya ia berpikir Rutan Salemba adalah lingkungan steril yang akan membantunya pulih dari kecanduan.
Hal ini diungkapkannya saat pembacaan pleidoi atau nota pembelaan atas kasus keempatnya yakni dugaan peredaran narkoba di dalam Rutan Salemba.
Baca juga: Singgung Irish Bella dalam Pleidoi, Ammar Zoni: Kenapa Orang Sakit Dibuang Saat Butuh Rumah Pulang?
"Saya pikir Rutan Salemba itu halnya sama seperti rehabilitas yang bebas dari narkoba," kata Ammar Zoni di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (2/4/2026).
Namun, kenyataan yang ia temukan di dalamnya benar-benar berkebalikan dengan harapannya.
Ia menemukan lingkungan yang justru membuatnya semakin sulit untuk sembuh.
"Ternyata di sanalah tempat sarangnya, semua jenis narkoba," ungkapnya.
Yang lebih mengejutkan lagi, Ammar menggambarkan betapa mudahnya akses terhadap narkoba di dalam rutan.
Menurutnya, transaksi narkoba di sana adalah hal yang lumrah dan bisa dilakukan dengan sangat gampang.
"Apalagi di sana narkoba pun rasanya seperti beli kacang goreng. Mudah sekali didapat dengan harga yang relatif murah," bebernya.
Kondisi inilah yang membuatnya harus berjuang ekstra keras setiap hari untuk menahan godaan agar tidak kembali terjerumus.
"Sungguh sangat berat, berat, berat, berat banget untuk menghindari itu semua," bebernya.
Baca tanpa iklan