Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Superskor
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Sudut Lapangan

Matinya Seorang Filsuf Sepak Bola 'Posmo'

Tatkala Barcelona berupaya mengulang ekspedisi penaklukkan seperti musim lalu, berita duka justru menyeruak: sang maha guru, Johan Cruyff, wafat.

Matinya Seorang Filsuf Sepak Bola 'Posmo'
eugeneabrams.wordpress.com

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reza Gunadha

TRIBUNNEWS.COM - Tatkala Barcelona—dengan penuh gaya—berupaya mengulang ekspedisi penaklukkan tanah Spanyol serta menundukkan jagat Eropa seperti musim lalu, berita duka justru menyeruak: sang maha guru, Johan Cruyff, wafat.

Cruyff yang lahir di Amsterdam, Belanda, (25 April 1947), dikenal sebagai sosok revolusioner di daerah penuh sengketa, Catalonia. Ide-idenya, dinilai sebagai pembaru dan mampu meletakkan dasar filosofis bagi Barcelona, klub kebanggaan warga Catalunya,  sehingga bisa dipenuhi prestasi seperti saat ini.

"Bisakah kita memahami gaya permainan Barcelona tanpa Cruyff? Tidak mungkin! Meski kami memiliki pemain seperti Messi, Xavi dan Iniesta, mereka sangat lekat dengan gagasan yang dicetuskan oleh Cruyff," begitu testimoni Pep Guardiola mengenai peran penting Cruyff, kepada Footbal-Oranje.

Sepak Bola Postmodern

Mulai dari Guardiola, Xavi, Iniesta, hingga Lionel Messi, diam-diam ataupun blakblakan, menyatakan berutang budi kepada Cruyff, sehingga mampu menjelma sebagai bintang lapangan plus idola dunia.

Sebab, tanpa Cruyff yang memiliki filosofi berbeda dari manajer-manajer sepak bola pada eranya, Guardiola hingga Messi tak bakalan mampu masuk gelanggang tanpa menundukkan kepala.

Cruyff, sejak menjadi manajer tahun 1985 (-1988; Ajax Armsterdam) hingga menukangi Balugrana mulai 1988, memiliki prinsip unik yang melampaui pemikiran sezamannya: pesepakbola mahir, bukan ditentukan oleh tinggi badan tapi penguasaan filosofi dan teknik.

Sang meneer, bisa dikatakan sebagai filsuf postmodern yang ingin selalu tampil sebagai penggugat, bahkan pendobrak "rezim kepastian". 

Selain mengenai postur tubuh, Cruyff juga menggugat postulat sepak bola bahwa setiap klub yang ingin menjadi jawara haruslah fokus pada struktur pertahanan yang berlapis. 

Halaman
1234
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas