3 Dosa Besar Patrick Kluivert hingga Harus Angkat Kaki dari Timnas Indonesia
Tiga dosa besar yang berujung pemecatan Patrick Kluivert di Timnas Indonesia, hasil buruk di Kualifikasi Piala Dunia 2026 menjadi penyebab utama.
Penulis:
Muhammad Ali Yakub
Editor:
Arif Tio Buqi Abdulah
Alih-alih memperkuat fondasi pembinaan jangka panjang, kebijakan dan keputusan Kluivert justru membuat sistem pengembangan pemain muda berantakan.
Dua pelatih kepercayaannya asal Belanda, Gerald Vanenburg (U23) dan Frank van Kempen (U20), yang direkrut dalam proyek kepelatihan lintas jenjang, akhirnya ikut terseret dalam pemutusan kontrak massal usai kegagalan tim senior.
Di level U20, performa Timnas Indonesia jauh dari kata menjanjikan.
Skuad muda Garuda gagal menunjukkan progres signifikan di berbagai turnamen internasional, bahkan sering tampil tanpa arah permainan yang jelas.
Situasi serupa terjadi di Timnas U23, yang sebelumnya sempat menjadi kebanggaan publik usai mencapai semifinal Piala Asia U23 2024.
Namun di era Kluivert, mental juara dan karakter permainan solid itu hilang.
Puncaknya terjadi di Kualifikasi Piala Asia U23 2026, di mana Indonesia hanya mampu finis di posisi kedua Grup J dengan torehan 4 poin dari 3 laga.
Hasil itu membuat Garuda Muda gagal lolos ke putaran final, sebuah kemunduran besar dibanding pencapaian tahun lalu.
Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa era kepelatihan Kluivert tidak hanya berdampak buruk bagi tim utama, tetapi juga mengacaukan kesinambungan regenerasi pemain muda Indonesia yang sebelumnya mulai terbentuk di bawah Shin Tae-yong.
(Tribunnews.com/Ali)