Evolusi Lionel Messi dan Seni Bertahan di Puncak Sepak Bola
Lionel Messi bukan hanya bertahan melawan usia, tetapi berevolusi mengikuti perubahan sepak bola modern hingga menjadi pusat permainan Argentina.
Penulis:
Muhammad Nursina Rasyidin
Editor:
Drajat Sugiri
Ide Rijkaard jelas ingin menempatkan Messi di tengah-tengah lapangan karena kemampuannya mengolah si kulit bundar .
"Semakin banyak dia menyentuh bola, semakin baik bagi tim," kata Rijkaard ketika itu.
Tapi Rijkaard tidak lama membesut Barcelona, sebelum datangnya Pep Guardiola pada tahun 2008.
Di awal masa kepelatihan Guardiola, Messi kembali ke sisi kanan lapangan. Itu adalah jalannya menuju gawang lawan.
Hingga satu momen, Guardiola menginginkan hal lebih dari Messi dengan alasan defensif sehingga memindahkannya dari posisi sayap.
Tapi, Guardiola paham bahwa Lionel Messi selalu berada di pusat permainan, dan itu kemudian menyesuaikan gaya permainan Barcelona di berbagai kompetisi dan momen-momen penting lainnya.
Sudah tidak adalagi Ronaldinho ketika itu, hanya ada Henri dan Samuel Etoo di lini depan.
Pada 2 Mei 2009 di Bernabeu dalam pertandingan El Clasico melawan Real Madrid, Guardiola melakukan perubahan untuk peran Messi.
Dia ditempatkan di ujung formasi penyerangan, dengan menarik Etoo ke sisi kanan, dan Henry ke sisi kiri.
Messi mendapat instruksi jatuhkan bola, terima, dan putuskan. Barcelona besutan Guardiola pun menang dengan skor mencolok 6-2 atas Real Madrid.
Perubahan itu membuat pemain Madrid kebingungan untuk mengambil keputusan, apakah akan tetap mengikutinya atau meninggalkannya, otomatis akan memberikannya keleluasaan dalam mengeksplorasi ruang. Itu adalah tanda bahaya bagi tim ketika membiarkan Lionel Messi diberikan ruang.
Perlu diketahui, di belakang Messi masih ada Iniesta, Xavi, dan Yaya Toure yang bisa memberikan dukungan terhadapnya.
Pada final Liga Champions melawan Man United, Guardiola kembali melakukan eksperimen serupa. Menariknya Lionel Messi mencetak gol dengan sundulan kepada 20 menit sebelum pertandingan.
Momen itu terasa memorable bagi Gigih. Bagaimana bisa Lionel Messi yang memiliki postur tubuh lebih kecil bisa menaklukkan Ferdinand dan membuat Van der Sar terdiam melihat gawangnya dibobol Messi dengan sundulan.
"Itu memorable aja karena jadi sebuah gol yang pembeda di sebuah panggung yang sangat amat besar," kenang Gigih.