Setelah Pemain, Giliran Suporter Iran Dapat Perlakuan Diskriminatif di Piala Dunia 2026
Suporter Timnas Iran mendapatkan perlakuan tak menyenangkan menjelang Piala Dunia 2026. Tiket resmi para suporter dicabut sepihak oleh AS.
Penulis:
Whiesa Daniswara
Editor:
Drajat Sugiri
Sejumlah staf kepelatihan, tim medis, serta jajaran manajemen administratif utama dilaporkan belum mengantongi izin masuk ke AS.
Pihak Teheran menilai hal ini merupakan bentuk obstruksi atau penjagalan terselubung agar performa tim mereka pincang di turnamen nanti.
Di sisi lain, blokade visa ini tidak lepas dari pernyataan keras Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, beberapa hari sebelumnya.
Rubio menegaskan di hadapan anggota parlemen bahwa Washington tidak akan menoleransi masuknya pejabat-pejabat Iran yang terindikasi memiliki hubungan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
AS menyatakan tidak bermasalah dengan para atlet, tetapi mereka menyaring ketat rombongan delegasi yang dicurigai menyusupkan kepentingan militer.
Merespons polemik yang kian memanas, seorang pejabat teras administrasi AS memberikan klarifikasi kepada CNN.
Otoritas Washington mengklaim telah menerbitkan seluruh visa yang dibutuhkan bagi Timnas Iran untuk berkompetisi secara legal, baik untuk kategori atlet maupun staf pendukung yang dianggap krusial.
Risiko di Piala Dunia 2026
Sebenarnya, faktor risiko yang dihadapi selama Piala Dunia 2026 berlangsung tak hanya soal keamanan dan ketertiban umum saja.
Faktor dari dalam permainan sepak bolanya itu sendiri juga memiliki risiko besar yang harus ditanggung.
Salah satunya adalah soal padatnya jadwal kompetisi yang dimainkan selama Piala Dunia 2026.
Para pemain harus intens beraksi bagi negara masing-masing selama kurang lebih 30 hari.
Bisa dibilang, para pemain hanya memiliki jeda istirahat kurang lebih dua hingga tiga hari saja untuk selanjutnya tampil lagi bersama timnas masing-masing.
Menurut Adrian dari Spieltag Indonesia, hal tersebut bisa meningkatkan risiko para pemain itu terkena cedera karena minimnya waktu pemulihan.
"Menurut saya, menimbulkan risiko cedera pemain. Kita sih berharap tidak ada cedera selama turnamen karena hal tersebut memengaruhi kekuatan tim dan berdampak pada kualitas persaingan secara keseluruhan," katanya dalam podcast Super Taktik Tribunnews.
(Tribunnews.com/Whiesa)