Tribun Techno

Twitter Diam-diam Ubah Kebijakan Soal Covid-19, Elon Musk: Jadi Arena Kebebasan Berbicara

Pengguna yang melanggar aturan pun akan menerima teguran, setelah mendapatkan dua hingga tiga teguran, akun mereka lalu ditangguhkan selama 12 jam.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Seno Tri Sulistiyono
zoom-in Twitter Diam-diam Ubah Kebijakan Soal Covid-19, Elon Musk: Jadi Arena Kebebasan Berbicara
OLIVIER DOULIERY / AFP
Twitter mengatakan tidak akan lagi menegakkan kebijakan misinformasi virus corona (Covid-19). Ini menurut pembaharuan di halaman transparansi platform ini tentang Covid-19 yang diposting minggu lalu. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, CALIFORNIA - Twitter mengatakan tidak akan lagi menegakkan kebijakan misinformasi virus corona (Covid-19).

Ini menurut pembaharuan di halaman transparansi platform ini tentang Covid-19 yang diposting minggu lalu.

Langkah tersebut dilakukan saat pemilik baru Twitter, Elon Musk mengumumkan 'amnesti umum' untuk akun yang sebelumnya ditangguhkan.

Dikutip dari laman Russia Today, Rabu (30/11/2022), kebijakan misinformasi awalnya dikembangkan pada 2020 di tengah merebaknya Covid-19 dan dimaksudkan untuk memerangi postingan menyesatkan yang 'berbahaya' tentang Covid-19, kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk membatasi penyebarannya dan vaksin terkait.

Baca juga: Apple Ancam Blokir Twitter, Elon Musk: Kami akan Buat Ponsel Khusus 

Pengguna yang melanggar aturan pun akan menerima teguran, setelah mendapatkan dua hingga tiga teguran, akun mereka lalu ditangguhkan selama 12 jam.

Setelah mendapat empat kali teguran, akun mereka akan dikunci selama seminggu, sementara pelanggar dengan lebih dari lima teguran secara permanen dilarang dari platform tersebut.

Menurut statistik yang diterbitkan oleh Twitter sendiri, pada periode Januari 2020 hingga September 2022, moderator platform menantang lebih dari 11,72 juta akun dan menangguhkan lebih dari 11.000 karena melanggar aturan.

Mereka juga menghapus hampir 100.000 konten di seluruh dunia berdasarkan kebijakan tersebut.

Kebijakan moderasi ekstensif menjadi topik perdebatan sengit.

Beberapa menyerukan lebih banyak penyensoran terhadap postingan yang dianggap berbahaya.

Sementara yang lainnya berpendapat bahwa ini merupakan penindasan terhadap hak kebebasan berbicara.

Sejak Musk mengakuisisi Twitter seharga 44 miliar dolar AS pada bulan lalu, ia telah membuat sejumlah perubahan dramatis di perusahaan, termasuk memberhentikan hampir dua pertiga stafnya dan secara signifikan merampingkan tim moderasi dan manajemen situs.

Baca juga: Elon Musk akan Luncurkan Centang Biru, Emas, dan Abu-abu di Twitter, Apa Bedanya?

Menjelang momen Thanksgiving Day, miliarder itu juga berjanji untuk memperpanjang 'amnesti umum' ke sejumlah akun yang ditangguhkan setelah mengadakan jajak pendapat di Twitter, di mana lebih dari 72,4 persen dari 3,1 juta responden mendukung langkah tersebut.

Kritikus berpendapat bahwa layanan jejaring sosial dapat segera menjadi sarang informasi yang salah, ekstremisme sayap kanan, dan ujaran kebencian.

Namun Musk bersikeras ingin Twitter menjadi arena permainan yang setara dan benteng kebebasan berbicara, di mana orang dapat bertukar pandangan secara damai tentang berbagai topik.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas