Studi Lenovo Ungkap Pengeluaran Adopsi AI di ASEAN+ Naik 2,7 Persen
Meskipun pengeluaran untuk AI terus meningkat, adopsi teknologi di kawasan ASEAN+ masih berada pada tahap awal.
Penulis:
Lita Febriani
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lenovo mengeluarkan edisi ketiga dari laporan Lenovo’s CIO Playbook 2025 yang berjudul It's Time for AI-nomics, sebuah studi yang diprakarsai oleh Lenovo berdasarkan data dan analisis dari IDC.
Studi ini mengacu pada survei global terhadap lebih dari 2.900 responden, termasuk lebih dari 900 pengambil keputusan Teknologi Informasi (TI) dan bisnis (ITBDM) di 12 pasar Asia Pasifik.
Para pemimpin bisnis dan pengambil keputusan TI mengonfirmasi bahwa tren investasi dalam kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin berfokus pada pengembalian investasi atau Return on Investment (ROI).
Baca juga: Spesifikasi Lenovo Tab K11, Meluncur dengan Prosesor MediaTek Helio G88
Laporan ini menunjukkan bahwa pengeluaran untuk AI di kawasan Asia Pasifik (AP) meningkat signifikan, mencapai 3,3 kali lipat.
Sementara di wilayah Association of Southeast Asian Nations (ASEAN+1), angka tersebut tercatat naik 2,7 kali lipat.
Tahap Awal Adopsi AI: ROI sebagai Tantangan Utama
Meskipun pengeluaran untuk AI terus meningkat, adopsi teknologi di kawasan ASEAN+ masih berada pada tahap awal.
Sekitar 47 persen organisasi di kawasan ini sedang dalam proses evaluasi atau merencanakan penerapan AI dalam 12 bulan mendatang, angka yang sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata Asia Pasifik (56 persen) dan global (49 persen).
Tantangan terbesar yang dihadapi oleh organisasi adalah mendapatkan ROI yang optimal dari investasi AI mereka.
Singapura menjadi pusat regional dengan tingkat kematangan dan infrastruktur AI yang lebih maju, sementara negara-negara ASEAN+ lainnya masih menghadapi hambatan dalam adopsi teknologi ini, seperti keterbatasan sumber daya dan keahlian.
Mewujudkan ROI dari investasi AI menjadi sebuah upaya jangka panjang yang mengharuskan organisasi untuk menemukan keseimbangan antara eksperimen dan implementasi proyek yang bisa dikembangkan lebih luas.
Menariknya, organisasi di Asia Pasifik mengharapkan ROI rata-rata 3,6 kali lipat dari investasi AI mereka, yang menuntut pendekatan terukur dalam peningkatan skala dan pengembangan kapabilitas internal.
Adopsi AI yang lebih bertahap di ASEAN+ mencerminkan fokus pada optimalisasi rantai pasokan, peningkatan kepatuhan regulasi, serta peningkatan produktivitas karyawan, dengan mengatasi tantangan seperti manajemen data, keterampilan AIdan keamanan data.
Tantangan Tata Kelola AI
Seiring dengan berkembangnya adopsi AI, kesadaran tentang pentingnya tata kelola yang baik semakin meningkat.
Baca tanpa iklan