Studi Lenovo Ungkap Pengeluaran Adopsi AI di ASEAN+ Naik 2,7 Persen
Meskipun pengeluaran untuk AI terus meningkat, adopsi teknologi di kawasan ASEAN+ masih berada pada tahap awal.
Penulis:
Lita Febriani
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Meskipun begitu, isu terkait etika dan bias dalam penggunaan AI tetap menjadi tantangan utama. Hanya 24 persen organisasi global dan 25 persen di Asia Pasifik yang telah sepenuhnya menerapkan kebijakan AI GRC (Governance, Risk and Compliance).
Di ASEAN+, 24 persen CIO melaporkan telah mengimplementasikan kebijakan AI GRC secara penuh, sejalan dengan tren global dan Asia Pasifik.
Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih terstruktur dalam menangani aspek tata kelola AI, yang kini menjadi prioritas utama bisnis di kawasan.
Tata kelola AI yang efektif membutuhkan kejelasan dalam prinsip etika, akuntabilitas, pengelolaan model, serta peningkatan privasi, keamanan dan pengawasan manusia secara terintegrasi.
President Infrastructure Solutions Group Lenovo Asia Pacific Sumir Bhatia, mengatakan prioritas bisnis di Asia Pasifik terus berkembang.
"Pada 2025, Governance, Risk dan Compliance naik 12 peringkat menjadi prioritas utama, menyoroti fokus pada AI yang aman dan bertanggung jawab. Produktivitas karyawan juga meningkat dari peringkat ke-7 ke posisi ke-2, menunjukkan peran yang semakin krusial. Lenovo berkomitmen untuk membuat AI lebih mudah diakses, etis, berdampak, dan mendukung bisnis dari berbagai skala," tutur Sumir dalam keterangannya, Senin (3/3/2025).
Adopsi GenAI Semakin Cepat
GenAI diperkirakan akan mengubah alur kerja perusahaan, dengan 42 persen pengeluaran untuk implementasi AI pada 2025 di ASEAN+ akan dialokasikan untuk beberapa teknologi.
Pertama, di Asia Pasifik, operasi TI menjadi fokus penggunaan utama. Kedua, ada lebih banyak fokus pada keamanan siber dan ketiga pengembangan perangkat lunak di Asia Pasifik.
Sementara itu, di ASEAN+ yang menjadi fokus utama adalah layanan terhadap pelanggan. Kedua operasi TI, ketiga disusul oleh rekayasa/R&D yang menjadi prioritas.
Infrastruktur On-Prem dan Hybrid Mendominasi
Laporan ini juga mengungkapkan bahwa 65 persen organisasi di Asia Pasifik memilih solusi on-prem atau hybrid untuk mendukung beban kerja AI.
Preferensi ini didorong oleh kebutuhan akan lingkungan yang aman, latensi rendah dan fleksibilitas operasional. Sementara itu, 19 persen masih bergantung pada layanan cloud publik.
Di ASEAN+ juga mencerminkan tren serupa, dengan 68 persen menggunakan solusi hybrid atau on-prem, sementara sisanya bergantung pada cloud publik.
General Manager Lenovo Indonesia Budi Janto, mengungkap arsitektur hybrid menawarkan kombinasi terbaik dari skalabilitas dan kontrol.
Baca tanpa iklan