Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Ki Mas Hindi Menegaskan Palembang Bukan Jawa, Sejarah Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Setelah keraton Kuto Gawang dikuasai Belanda, Pangeran Rejek Putra Pertama mengungsi ke pedalaman.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Mohamad Yoenus
zoom-in Ki Mas Hindi Menegaskan Palembang Bukan Jawa, Sejarah Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
Sriwijaya Post/Syahrul Hidayat
Museum Sultan Mahmud Badaruddin II 

Laporan Wartawan Sriwijaya Post/Yandi Triansyah

TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG - Setelah keraton Kuto Gawang dikuasai Belanda, Pangeran Rejek Putra Pertama mengungsi ke pedalaman.

Namun kekuasaannya diserahkan kepada adiknya, Pangeran Ratu Ki Mas Hindi.

Ki Mas Hindi sebagai penguasa Palembang kembali mengikat hubungan dengan Mataram.

Akan tetapi Palembang hanya menerima penghinaan.

Atas sikap itulah, Palembang kemudian mengambil keputusan, bahwa hubungan ideologis kultural sudah waktunya dihentikan.

Rekomendasi Untuk Anda

Sikap Ki Mas Hindi yang tegas, menganggap Palembang merupakan suatu kerajaan yang mandiri dengan identitas sendiri.

Ia menegaskan, Palembang adalah Palembang, bukan Jawa.

Ki Mas Hindi menunjukkan bahwa Raja Palembang sederajat dengan Raja Mataram.

Maka Ki Mas Hindi menggunakan gelar Sultan Abdurrahman bergelar Kholifatul Mukminin Sayidal Imam juga terkenal dengan Sunan Cinde Wayang.

Kondisi itulah yang membuat perubahaan besar dalam kesultanan Palembang.

Pelaminan
Pelaminan khas Palembang yang dipajang di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. (Sriwijaya Post/Yandi Triansyah)

Hampir seluruh tata cara dan kebiasaan berubah.

Seperti keris, pakaian Jawa menjadi pakaian Melayu, aksara Jawa diganti menjadi aksara Melayu (Arab gundul).

Hanya bahasa keraton yang masih menggunakan bahasa Jawa.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas