Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Si Pitung, Legenda Betawi dan Kisah Rumah Terakhir di Marunda

Di Jalan Kampung Marunda Pulo, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara adalah tempat terakhir Si Pitung setelah melanglang buana

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Si Pitung, Legenda Betawi dan Kisah Rumah Terakhir di Marunda
Tribunnews/Reynas
Rumah Pitung di Marunda. 

Setiap menjalankan aksi perampokan, Si Pitung tidak membangun komplotan, melainkan kompak berdua dengan sepupunya yaitu Ji'in yang kemudian di hukum mati.

Pitung bekerja sendiri hingga membuat polisi Belanda sulit melacak informasi mengenai keberadaannya.

Rumah Si Pitung yang berlokasi di Marunda ini sesungguhnya adalah rumah Haji Safiudin seorang bandar perdagangan ikan di kawasan utara Jakarta.

Menurut kabar, Pitung merampok rumah Haji Safiudin hingga rumahnya diakui milik Pitung, tetapi muncul kabar versi kedua bahwasanya Safiudin dan Pitung melakukan kesepakatan.

Perginya Uang Hasil Rampokan


Pitung tak pernah menikmati hasil rampokannya usai beraksi, ia pun tidak pernah beristri lantaran statusnya sebagai buronan yang membuat tidak dapat menetap di suatu tempat.

Rekomendasi Untuk Anda

Pitung bukan penjudi atau pemabuk, ia hanya penganut tarekat dan dapat menulis dalam aksara Melayu dan juga Arab.

Akhir Riwayat Si Pitung


Dan mulai saat itu, Pitung kerap berkunjung ke rumah Haji Safiudin yang kemudian terkenal dengan nama rumah Si Pitung.

Namun karena seringkali tinggal di sana, keberadaan Pitung akhirnya tercium oleh mata-mata Belanda saat itu.

Pitung selalu muncul dari Pondok Kopi, Jakarta Timur jika hendak berangkat ke Marunda, kediaman Haji Safiudin.

Pada suatu petang, pemimpin polisi Batavia, Schout Hijne dengan kekuatan penuh satu regu bersenjata lengkap menanti kehadiran Pitung di Pondok Kopi.

Ketika mulai gelap, Pitung lantas muncul dan langsung dihujani timah peluru yang bersarang disekujur di tubuhnya.

Pitung tergeletak, tetapi ia tak langsung tewas. Pitung sempat dilarikan ke rumah sakit militer yang kini bernama RSPAD, Jakarta Pusat menggunakan sebuah ambulans.

Menurut Margriet van Teel, dalam perjalanan menuju rumah sakit, Pitung terus menyanyikan lagu Nina Bobo hingga membuat Schout, menegurnya tegas.

Pitung kemudan meninggal dunia di usianya yang baru 28 tahun. 

Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas