Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Ketika Lapangan Bola Tidak Lagi Hijau

Sekitar 16 tahun lalu media massa dunia ramai memberitakan perang pendapat antara dua maha bintang lapangan hijau Pele dan Maradona

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Toni Bramantoro

Sekitar 16 tahun lalu, media massa dunia ramai memberitakan perang pendapat antara dua maha bintang lapangan hijau, Pele dan Maradona.

Pele secara terbuka berpendapat, Maradona tidak mungkin menjadi pemain panutan, karena masa lalunya yang kelam sebagai pemakai narkoba. Apalagi menjadi pemain terbaik dunia abad ke 20.

"Bagaimana mungkin pemakai narkoba bisa menjadi panutan," kata Pele.

Sontak komentar Pele ini disambut cercaan balik oleh Maradona.

Kata Maradona, Pele juga tidak pantas menjadi panutan, apalagi pemain terbaik dunia abad ke 20.

"Pele punya masa lalu yang buruk. Dia pernah punya hubungan cinta dengan seorang lelaki, pelatih junior klub Santos," kata Maradona.

Menjelang tahun 2000,FIFA tengah menimbang-nimbang, siapa dari dua lagenda ini (Pele dan Maradona) yang layak dinobatkan menjadi pemain terbaik abad 20.

Rekomendasi Untuk Anda

Akhirnya Pele dan Maradona sama-sama memperoleh kehormatan itu.

Serangan balik Maradona, tidak ditanggapi Pele, sampai dia meluncurkan buku berjudul "Pele: His Life and Times" sembilan tahun kemudian.

Isi bukunya antara lain menyatakan Pele adalah seorang lelaki sejati. Seorang pesepakbola terhebat sepanjang masa.

Pertengahan Maret 2009, Pele "menuduh" Ronaldo dan Robinho menggunakan narkoba pada sebuah pesta pribadi di Sao Paulo. Robinho yang saat itu masih bermain di Manchester City tidak tinggal diam.

"Itulah komentar rendahan seorang homosexsual,"sindir Robinho, kasus ini kemudian berakhir damai, setelah Pele minta maaf.

Tanggal 12 Juni di Krakoe, Polandia, dasar berlangsung Piala Eropa 2012, penyerang Italia, Antonio Cassano, terpancing pertanyaan wartawan.

Casano menyatakan mungkin saja ada pemain "gay" timnas Italia.

Sebulan kemudian tepatnya 20 Juli 2012, Uni Sepak Bola Eropa (UEFA) menjatuhkan sanksi denda 15.000 Euro (sekitar Rp 172 juta)  karena Peryataan Cassano dianggap diskriminatif.

Halaman 1/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas