Ketika Lapangan Bola Tidak Lagi Hijau
Sekitar 16 tahun lalu media massa dunia ramai memberitakan perang pendapat antara dua maha bintang lapangan hijau Pele dan Maradona
Editor:
Toni Bramantoro
Dengan fakta diatas, saya hanya ingin membuka matahati kita semua bahwa apapun pernyataan yang kita ungkapkan ke publik, memiliki dua konsekwensi logis: positif dan negatif.
Jika itu memberikan efek positif, tentu tidak ada masalah.Tetapi bagaimana jika berdampak negatif, terhadap siapapun yang dituduhkan secara personal.
Perang opini di media massa juga bukan tanpa konsekwensi. Apalagi saling serang untuk membenarkan posisi masing-masing, dengan tuduhan yang terlalu jauh.
Apalagi tidak disuling fakta yang cukup, sehingga masuk dalam lingkup pencemaran nama baik (pasal 310 KUHP).
Indonesia tetaplah Indonesia. SDA etika dan moral yang berlaku umum ditengah adat ketimuran kita.
Indonesia bukanlah Brazil atau Eropa, dimana para publik figur sepakbola bisa saling mempermalukan di ranah publik.
Sepakbola adalah sepakbola. Ketika urusan sepakbola dipaksa untuk dibawa keluar dari stadion, saat itulah warna lapangan bola tidak lagi hijau.
Sudah warna-warni, sesuai warna kepentingan individu atau kelompok. Ketika warna lapangan tidak lagi hijau, saat itulah bencana datang.
Dalam konteks perang opini, apa yang diperlihatkan oleh Pele, Maradona, Robinho, ataupun Cassano, bukanlah contoh yang baik bagi srpakbola Indonesia.
Walaupun prestasi sepakbola kita sehebat Brazil ataupun negara- negara Eropa, tetapi Indonesia haruslah memegang teguh etika dan moral.
Perang opini yang tanpa kontrol oleh "tokoh-tokoh sepakbola" Indonesia akhir/akhir ini semakin tidak terukur. Bahkan tuduhan-tuduhan semakin bersifat personal, demi kepentingan pribadi atau kelompok. Dalam banyak hal, tuduhan/tuduhan sering tidak disertai fakta yang memadai.
Ini sangatlah berbahaya!
Pihak pertama yang akan menerima efek buruk dari semua ini adalah sepak bola Indonesia. Masyarakat sepakbola Infonesia akhirnya dipaksa menonton drama "Hamlet" karya William
Shakespeare, di lapangan bola yang tidak lagi hijau, Sebuah keganjilan di siang bolong.
Kita semua perlu ingat, bahwa misi pembentukan PSSI oleh Ir Suratin dan kawan-kawan puluhan tahun lalu, adalah "sebagai alat pemersatu dan perjuangan bangsa".
Bukan organisasi politik yang menjadi anak tangga menuju panggung kekuasaan. Bukan pula institusi bisnis yang grafiknya dihitung Year on Year (YoY).
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan