Ketika Lapangan Bola Tidak Lagi Hijau
Sekitar 16 tahun lalu media massa dunia ramai memberitakan perang pendapat antara dua maha bintang lapangan hijau Pele dan Maradona
Editor:
Toni Bramantoro
Mungkin, kita semua harus melihat dengan hati. Agar rasa benci tergantikan dengan cinta. Karena hanya dengan cinta, kita semua dapat menghargai anugerah Tuhan.
Hanya dengan cinta, lapangan bola akan tetap hijau.
"Kekuatan untuk mencintai adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia. Sebab kekuatan itu tidak akan pernah direngut dari manusia penuh berkat yang mencintai" (Kahlil Gibran)
Cinta juga dapat menumbuhkan kedamaian hati. Kedamaian hati mendorong kedamaian berpikir.
Dengan kedamaian hati dan kedamaian berpikir, akan dapat diraih pengertian, untuk perdamaian dan kehormatan sepakbola Indonesia.
"Perdamaian tidak dapat dijaga dengan kekuatan. Hal itu hanya dapat diraih dengan pengertian" (Albert Einstein).
Agar lapangan bola bisa tetap hijau, diperlukan kedamaian hati dan kedamaian berpikir.
Sehingga diperoleh pengertian yang lebih tulus, untuk melihat kepentingan sepakbola Indonesia, dengan hati.
Jayalah sepakbola Indonesia.
* Tommy Rusihan Arief, mantan Ditektur Media PSSI
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan