Meruwat Kebersamaan, Merawat Nilai Kebangsaan
Menampilkan kesadaran bersama bahwa membersihkan yang jorok itu tidak bisa dengan mengunakan sapu yang kotor belepotan.
Editor:
Robertus Rimawan
Itulah sebabnya mengapa semua harus kembali ke rumah besar warga bangsa (Indonesia), meruwat dan merawat supaya perjalanan semesta ini tidak terseok karena sebagian dari kita menghendakinya begitu, tanpa disadari.
Sejatinya, ada persoalan yang lebih serius soal bangsa yang satu, yang seharusnya butuh perhatian ekstra.
Maka pertanyaannya adalah, mengapa hal penting ini luput dari bidikan padahal itu sangat urgen dalam risalah kehidupan warga bangsa?
Pada saat publik di luar Asia termangu-mangu memuja bangsa ini sebagai negeri yang sulit ditaklukkan, mengapa warga sendiri yang hendak meruntuhkan bangsanya dengan cara mengarahkan pandangan yang hendak mendekonstruksi substansi nilai dan makna berbangsa?
Konstruk ini berbeda dengan cara warga India mencintai bangsanya yang pada mulanya dipandang sebelah mata terutama ketika bangsa ini dianggap negara miskin.
Tetapi siapa sangka bila pada akhirnya dengan kebersamaan dan kekompakannya, India menjadi negara yang susah untuk ditaklukkan.
Meskipun, negara ini memiliki populasi yang banyak dengan angka kemiskinan yang tinggi, tetapi tahun ini India telah menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.
Di bidang militer, India berada di posisi ke-3 dalam hal kekuatan militer terbesar.
Dinding laser yang dibangun untuk melacak siapa saja yang menerobos melewati perbatasan, mengejutkan negara lainnya di Asia.
Begitu pula dengan Pakistan, di bidang ekonomi, negeri ini menunjukkan taringnya dan berada di urutan ke-5 sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.
Hal yang sama dialami Tiongkok yang tingkat perekonomiannya empat kali lebih besar. Setara dengan negeri maju di Asia adalah Jepang.
Ia berada di urutan ke-7 dalam deretan negara paling berpengaruh di dunia dan bertengger di urutan ke-3 dalam hal ekonomi terbesar di dunia.
Di ranking berikutnya adalah Korea Selatan yang dikenal dengan macan Asia. Baru di urutan paling akhir adalah Indonesia.
Di posisi buncit inilah, warga seharusnya berpikir dan bertindak lebih serius dalam menata hati bagaimana seharusnya berwarganegara dan bermasa depan yang lebih bermartabat.
Negeri ini milik bersama dan tidak ada yang merasa lebih berhak untuk menancapkan kakinya sebagai yang superior, apapun suku, agama, ras dan golongannya. Ibarat satu raga yang sakit maka semua merasa perih karena kita berada dalam tubuh yang sama, Indonesia.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan