Meruwat Kebersamaan, Merawat Nilai Kebangsaan
Menampilkan kesadaran bersama bahwa membersihkan yang jorok itu tidak bisa dengan mengunakan sapu yang kotor belepotan.
Editor:
Robertus Rimawan
Bahwa telah terjadi perbedaan pendapat dan cara menafsir tentang satu hal yang bermula dari ucapan seseorang yang berujung dengan unjuk rasa 4 November 2016 lalu, itu adalah perhatian dalam bentuknya yang lain kepada bangsa ini, seberapapun kecil wujudnya untuk menyelamatkan bangsa dari TAHG (tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan).
Peristiwa ini setidaknya menjadi ikhtiar bersama agar ombang-ambing ketidaksamaan itu kembali ke khittah Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi pijakan bagaimana seharusnya berbangsa, bernegara dan bersatu melawan jejak keterbelakangan.
Dulu, Mark Chapman menyesal karena telah melesatkan peluru ke tubuh artis terkenal asal Inggris, John Lennon.
Mark melakukan ini dengan alasan yang agak sulit diterima logika. Mark menembak Lennon dengan alasan karena artis itu terlalu populer.
Ia tidak berniat membunuhnya karena tidak ada secuil rasa benci pun, dan tidak ada dendam maupun amarah di dadanya.
Oleh karena di republik ini tidak ada Mark Chapman, maka pada saat yang sama, tidak ada kehendak untuk membunuh yang telah populer bernama Indonesia gemah ripah loh jinawi.
Negeri ini harus diruwat atas nama kebersamaan dan dirawat atas nama kebangsaan karena sesungguhnya Indonesia adalah kita, baik dalam perspektif yang sama atau berbeda sama sekali. (*)
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan