Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

Menjadi Kader “Tukang” HMI

Dalam Dies Natalis I HMI 1948, Jenderal Besar Sudirman mengartikan HMI sebagai “Harapan Masyarakat Indonesia” yang terkenal hingga saat ini.

Editor: Hasanudin Aco
Menjadi Kader “Tukang” HMI
net
Logo HMI 

Demikian halnya, HMI ikut bertempur dalam agresi I dan II karena Belanda ingin kembali menguasai Indonesia sampai digelarnya Konferensi Meja Bundar (KMB) yang mengakui Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

Kader vs “tukang”

Albert Sydney Hornby (1989) mendefinisikan kader sebagai small group of people who are specially chosen and trained for a particular purpose. Merriem-Webster mengartikannya “a nucleus or core group especially of trained personnel able to assume control and to train others”.

Nathan Fiel (1969) menyimpulkan kader sebagai semua jenis inti kepemimpinan (all kinds of leadership core). Sedangkan tukang (artisan) adalah orang yang mempunyai kepandaian dalam suatu pekerjaan seperti tukang batu, besi dan bahkan tukang pukul atau tukang tipu.

Pada intinya, kader adalah ujung tombak dan tulang punggung kontinyuitas organisasi HMI sejak didirikan hingga hingga sekarang dengan hierarti kepemimpinan dari pengurus besar sampai tingkat komisariat yang berbasis di fakultas suatu perguruan tinggi.

Tak seperti tukang, tidak perlu pelatihan khusus karena kecakapan yang diraihnya cukup mendampngi tukang senior, belajar otodidak membuat (make) dan bukan menjadi (become).

Dikalangan partai politik, seseorang yang baru saja diangkat sebagai ketua partai pada level tertentu bahkan tingkat paling tinggi pun dikatakan “kader”, padahal yang bersangkutan belum pernah mengikuti pola perkaderan apapun dalam partai.

Jangan heran jika menemukan seorang pimpinan partai tertentu hari ini berjaket warna merah, dilain waktu sudah berubah menjadi kuning atau biru. Karena partai baru dapat membuat “tukang” belum mampu menjadi “kader”.

Demikian halnya di HMI, ratusan bahkan ribuan mahasiswa, baru menjadi pengurus “tukang urus” kelembagaan HMI tetapi belum menjadi kader HMI yang dapat menjadi ujung tombak dan tulang punggung organisasi yang memiliki visi kedepan dan dapat melakukan social engineering, kualitas keilmuan, komitmen dalam memperjuangkan kebenaran, dan memahami nilai dasar perjuangan (NDP) dalam mentransformasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan sebagai nilai yang inheren dalam kehidupan pribadi kader baik sebagai mahasiswa maupun warga negara.

Menjadi “tukang” tidak perlu visi, yang penting terpenuhi gizi. Tak perlu pemahaman nilai-nilai, mereka hanya butuh angka-angka untuk melanjutkan hidup dan bukan cita-cita seperti rumusan HMI, kader insan cita.

Halaman
1234
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
berita POPULER
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas