Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Blog Tribunners

Gerakan Revolusi Mental di Kalangan Mahasiswa Belum Optimal

Mahasiswa juga perlu membentuk dirinya sebagai pribadi yang peka terhadap permasalahan sosial masyarakat dan membangun etos kerja untuk membantu masya

Gerakan Revolusi Mental di Kalangan Mahasiswa Belum Optimal
int
ilustrasi

Ditulis oleh: Fatma Nurfera

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - “Gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala."

Itulah salah satu ungkapan yang diucapkan oleh Presiden Indonesia pertama untuk memaknai arti revolusi mental. Ungkapan tersebut seakan menjadi sindiran langsung terhadap masyarakat sebagai bangsa yang masih memiliki krisis semangat dan jiwa untuk merdeka.

Saat ini, gerakan revolusi mental sedang digalakan kembali oleh pemerintah. Pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo, gerakan revolusi mental dimaknai sebagai upaya untuk memperkokoh kedaulatan, meningkatkan daya saing, dan mempercepat persatuan bangsa. Lebih lanjut, seperti yang telah termuat dalam wawancara yang dilakukan oleh tim redaksi Berita Satu, Presiden Jokowi mengatakan bahwa kepribadian bangsa yang semakin tergerus oleh nilai-nilai asing menjadi salah satu alasan untuk melakukan pembangunan bangsa yang tidak bersifat fisik saja namun perlu membangun nilai-nilai positif dan optimis.

Gerakan revolusi mental merupakan gerakan yang dilakukan oleh seluruh masyarakat, termasuk mahasiswa, sebagai agen pembentuk identitas kepribadian bangsa. Selain menjalankan tugasnya sebagai seorang mahasiswa yang masih sedang belajar, akan lebih baik lagi bila mahasiswa ikut serta dalam membentuk kepribadian masyarakat sebagai bangsa yang mandiri, optimis, dan berani bersaing dengan masyarakat luar negeri.

Mahasiswa juga perlu membentuk dirinya sebagai pribadi yang peka terhadap permasalahan sosial masyarakat dan membangun etos kerja untuk membantu masyarakat sehingga menjadi pelaku sekaligus teladan bagi masyarakat untuk mensukseskan gerakan revolusi mental. Hal tersebut menjadi sebuah strategi internalisasi nilai revolusi mental melalui jalur pendidikan tinggi.

Langkah nyata yang dapat dilakukan oleh mahasiswa adalah dengan ikut ‘terjun’ dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Menurut (Widjaja, 2003:169) pemberdayaan masyarakat adalah upaya meningkatkan kemampuan dan potensi yang dimiliki masyarakat sehingga masyarakat dapat mewujudkan jati diri, harkat dan martabatnya secara maksimal untuk bertahan dan mengembangkan diri secara mandiri baik di bidang ekonomi, sosial, agama dan budaya. Melaui kegiatan pemberdayaan, masyarakat diharapkan memiliki kemandirian untuk megembangkan potensi yang dimilikinya.

Dengan terjun ke lapangan, mahasiswa dapat melihat bagaimana kondisi fisik dan non-fisik yang ada. Dari sana mahasiswa dapat mengamati, menganalisis, dan mengetahui masalah apa saja yang timbul di suatu wilayah. Selain itu, melalui kegiatan pemberdayaan, mahasiswa dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh di pendidikan formal untuk mewujudkan hal positif di masyarakat. Melalui gagasan-gagasan yang berbasis kondisi di lapangan tentunya akan lahir ide-ide aplikatif sesuai dengan konteks kehidupan masyarakat. Melalui hal ini, gagasan mahasiswa tidak hanya menjadi suatu hal yang fiktif-teoritis dan hanya cita-cita semata.

Pada kenyataannya, kontribusi mahasiswa dalam berbagai kegiatan masyarakat tampaknya cenderung belum optimal. Hanya sedikit dari mereka yang mau terjun ke masyarakat. Sebagai contoh, hasil penelitian kualitatif penulis terhadap 15 mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma menunjukkan bahwa  11 diantara mahasiswa tersebut memang menyatakan dirinya pernah terlibat di kegiatan masyarakat.

Keterlibatan mahasiswa tersebut tercermin dalam bentuk kepengurusan organisasi karang taruna desa, ikut serta dalam kerja bakti dan gotong royong, keterlibatan dalam OMK paroki, dan ikut serta dalam remaja masjid di daerah tempat tinggal. Namun, dari 15 mahasiswa tersebut, 10 diantaranya juga menyatakan bahwa mereka jarang mengikuti kegiatan pemberdayaan masyarakat saat ini. 

Alasan dari kekurangikutsertaan mereka beragam, diantaranya terbatasnya kegiatan yang mewadahi mahasiswa dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, tidak adanya kegiatan pemberdayaan masyarakat yang sifatnya berkelanjutan, kesibukan mahasiswa, kurangnya kepercayaan diri untuk terlibat dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, dan kurangnya kedekatan dengan masyarakat di daerah tempat tinggal.

“Karena banyaknya tugas yang dibebankan kepada mahasiswa dan kesibukan dalam kepanitiaan jadi tidak sempat memikirkan tentang kegiatan pemberdayaan masyarakat,” ujar Cristy salah seorang mahasiswa.

Kontribusi mahasiswa dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat tentu perlu didukung dengan sistem/model pendidikan yang diperoleh di pendidikan formal khususnya perguruan tinggi.

Perguruan tinggi dituntut menyuguhkan model pendidikan yang tidak hanya selalu “memberi pengajaran” kepada peserta didik tetapi perlu mendorong mahasiswa untuk mengaplikasikan kemampuan yang telah diperolehnya.

Salah satu model yang dapat dipakai ialah dibentuknya beberapa kelompok mahasiswa dalam satu kelas untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh tentang kegiatan pemberdayaan di suatu wilayah. Mahasiswa dituntut untuk mampu menganalisis kondisi masyarakat dan memberikan gagasan yang dapat dipakai dalam pemecahan masalah.

Terdapat slogan yang dimiliki oleh Program Studi Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma yang dapat dipakai sebagai acuan dalam menganalisis kondisi masyarakat yaitu melalui kemampuan SUC (seeing, understanding, and communicating). Pertama, mahasiswa harus mampu seeing atau mengamati kondisi utama yang ada di suatu wilayah.

Tidak hanya terbatas pada kegiatan observasi, wawancara kepada beberapa pihak diperlukan agar memperoleh informasi lebih banyak.

Kedua, diperlukan kemampuan understanding, yaitu kemampuan memahami masalah yang ditemukan ketika proses observasi dan wawancara. Kemampuan memahami ini cukup penting karena menentukan seberapa banyak hasil yang diperoleh mahasiswa ketika menganalisis kondisi masyarakat. Ketiga, setelah diperoleh hasil pengamatan dan pemahaman terkait kondisi masyarakat, diperlukan adanya komunikasi antara beberapa pihak termasuk antar anggota kelompok mahasiswa tersebut. Setiap mahasiswa perlu menyampaikan pemahamannya dan berdialog untuk menyamakan pandangan dalam melihat suatu masalah.

Kemampuan analisis kondisi masyarakat oleh mahasiswa tentu kurang lengkap apabila tidak diikuti dengan sumbangan gagasan aplikatif dalam pemecahan masalah. Proses perumusan gagasan aplikatif diperlukan adanya diskusi dan dialog lebih lanjut antara mahasiswa dengan pengajar (dosen) ataupun antara mahasiswa dengan tokoh masyarakat wilayah terkait. Dalam hal ini, dosen sebagai pendidik tentunya turut berperan dalam menyubangkan pendapat dan gagasannya dalam perumusan gagasan aplikatif.

Setelah proses pengamatan dan perumusan gagasan berdasarkan diskusi dan dialog, mahasiswa diharapkan mampu menyumbangkan rumusan ide yang dapat diterapkan dan bermafaat bagi masyarakat. Melalui proses terjun ke masyarakat pula, diharapkan strategi internalisasi gerakan revolusi mental melalui jalur pendidikan tinggi dapat terwujud.

 

Penulis: Fatma Nurfera
Editor: Samuel Febrianto
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas