Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Senandung Sungai Sakit

Jika mata air kita musnahkan, sungai kita cemari, itu artinya kita belum lagi menjadi bangsa beradab.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Senandung Sungai Sakit
Ist/Tribunnews.com
Kepala BNPB Doni Monardo bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. 

Doni dalam paparan di Kongres Sungai lantas bertanya kepada hadirin, dari fakta dan kisah yang ia ceritakan, apa yang terjadi dengan sungai kita, apa penyebabnya?

Pertanyaan yang kemudian dijawabnya serentak para hadirin bahwa faktor utamanya cuma satu, yaitu manusia. Semua terjadi karena manusia.

Menjadi kotor dan cemar juga karena manusia, menjadi bersih juga karena manusia.

“Maka dalam kesempatan ini saya menyampaikan kepada hadirin, bahwa tidak ada gunanya semua konsep yang bagus-bagus itu, kalau tidak bisa mengubah manusia. Apa yang diubah? Perilaku!” ujar Doni tegas seraya berharap Kongres Sungai ke depan, harus bisa mengubah perilaku manusia.

Manusia sebagai biang keladi rusaknya sungai di Indonesia. Karenanya, untuk memperbaiki sungai, nomor satu harus mengubah perilaku manusia. Contoh soal sampah di sungai.

Sesering apa pun dibersihkan oleh petugas kebersihan, kalau perilaku manusia masih menganggap biasa membuang sampah di sungai, ya selama itu sungai kita masih akan dipenuhi sampah.

Termasuk perilaku manusia yang ada di hulu, dengan tidak menebang hutan, membangun villa, dan kegiatan-kegiatan lain yang akan merusak sungai.

Rekomendasi Untuk Anda

Karenanya, tegas Doni mengimbau kepada hadirin yang datang dari berbagai daerah untuk membuat program yang bisa mengubah perilaku manusia.

Melihat Hutan

Dalam kesempatan itu, Doni juga menyinggung soal hutan. Hutan adalah faktor penting dalam keseimbangan alam.

Faktor penting jika kita bicara tentang lingkungan hidup. Hutan adalah resapan air. Kalau hutan digunduli, akan terjadi longsor. Bukti sudah terjadi di mana-mana.

Berkurangnya luas areal hutan di Indonesia, juga patut diwaspadai. Dari sekitar 200 juta hektare lahan, maka 126 juta hektare di antaranya berupa hutan (64%).

Dalam 15 tahun terakhir, luas hutan kita berkurang sekitar 19 persen. Negara lain yang tergerus hutannya antara lain Rusia, Brazil, Kanada, dan Amerika Serikat.

“Padahal kita semua tahu pentingnya hutan. Salah satu adalah untuk daerah tangkapan air. Jadi bicara sungai tidak mungkin hanya sungai an sich, tetapi juga bicara tentang hutan, dan lain sebagainya. Ingat, sungai tidak saja tentang sungai utama dan anak sungai, tetapi juga ada cucu sungai, cicit sungai, dan sebagainya. Intinya, selain sungai utama, juga masih banyak anak-cucu sungai lain yang juga harus dipelihara dan diperhatikan,” paparnya.

Sungai Citarum

Halaman 3/4

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas