Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Senandung Sungai Sakit

Jika mata air kita musnahkan, sungai kita cemari, itu artinya kita belum lagi menjadi bangsa beradab.

Senandung Sungai Sakit
Ist/Tribunnews.com
Kepala BNPB Doni Monardo bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. 

Doni dalam paparan di Kongres Sungai lantas bertanya kepada hadirin, dari fakta dan kisah yang ia ceritakan, apa yang terjadi dengan sungai kita, apa penyebabnya?

Pertanyaan yang kemudian dijawabnya serentak para hadirin bahwa faktor utamanya cuma satu, yaitu manusia. Semua terjadi karena manusia.

Menjadi kotor dan cemar juga karena manusia, menjadi bersih juga karena manusia.

“Maka dalam kesempatan ini saya menyampaikan kepada hadirin, bahwa tidak ada gunanya semua konsep yang bagus-bagus itu, kalau tidak bisa mengubah manusia. Apa yang diubah? Perilaku!” ujar Doni tegas seraya berharap Kongres Sungai ke depan, harus bisa mengubah perilaku manusia.

Manusia sebagai biang keladi rusaknya sungai di Indonesia. Karenanya, untuk memperbaiki sungai, nomor satu harus mengubah perilaku manusia. Contoh soal sampah di sungai.

Sesering apa pun dibersihkan oleh petugas kebersihan, kalau perilaku manusia masih menganggap biasa membuang sampah di sungai, ya selama itu sungai kita masih akan dipenuhi sampah.

Termasuk perilaku manusia yang ada di hulu, dengan tidak menebang hutan, membangun villa, dan kegiatan-kegiatan lain yang akan merusak sungai.

Karenanya, tegas Doni mengimbau kepada hadirin yang datang dari berbagai daerah untuk membuat program yang bisa mengubah perilaku manusia.

Melihat Hutan

Dalam kesempatan itu, Doni juga menyinggung soal hutan. Hutan adalah faktor penting dalam keseimbangan alam.

Faktor penting jika kita bicara tentang lingkungan hidup. Hutan adalah resapan air. Kalau hutan digunduli, akan terjadi longsor. Bukti sudah terjadi di mana-mana.

Berkurangnya luas areal hutan di Indonesia, juga patut diwaspadai. Dari sekitar 200 juta hektare lahan, maka 126 juta hektare di antaranya berupa hutan (64%).

Dalam 15 tahun terakhir, luas hutan kita berkurang sekitar 19 persen. Negara lain yang tergerus hutannya antara lain Rusia, Brazil, Kanada, dan Amerika Serikat.

“Padahal kita semua tahu pentingnya hutan. Salah satu adalah untuk daerah tangkapan air. Jadi bicara sungai tidak mungkin hanya sungai an sich, tetapi juga bicara tentang hutan, dan lain sebagainya. Ingat, sungai tidak saja tentang sungai utama dan anak sungai, tetapi juga ada cucu sungai, cicit sungai, dan sebagainya. Intinya, selain sungai utama, juga masih banyak anak-cucu sungai lain yang juga harus dipelihara dan diperhatikan,” paparnya.

Sungai Citarum

Dari sungai, ke hutan, kembali ke sungai. Kali ini Doni Monardo bicara tentang Sungai Citarum. Sungai yang sangat penting artinya bagi masyarakat Jawa Barat. Ini bermula saat Doni menjabat Pangdam III/Siliwangi akhir 2017.

Bertugas di Bumi Siliwangi, Doni yang memang tak bisa jauh dari persoalan lingkungan hidup, langsung fokus melihat Sungai Citarum yang legendaris itu. Ia mendapat banyak masukan tentang parahnya Sungai Citarum.

Alhasil, Doni pun mencari data tentang Citarum. Tidak hanya bicara data, ia pun terjun langsung ke Sungai Citarum. Karena itu pula ia melihat betapa dahsyat pencemaran Citarum. Ia bahkan menjumpai bangkai sapi, bangkai kambing, bangkai ayam, semua dibuang ke Sungai Citarum.

"Kepada semua perajurit Siliwangi saya katakan, lihat itu lambang di lenganmu. Gambar Maung Siliwangi. Kalau Citarum kotor, tercemar dan membahayakan, maung itu bisa berubah jadi meong," kata pria kelahiran Cimahi Jawa Barat itu berkelakar yang disambut tawa hadirin. Semangat para perajurit pun menyala gotong royong memulihkan Citarum.

Syahdan, Presiden berkunjung ke Bandung 4 Desember 2017. Doni pun melaporkan persoalan Citarum ke Presiden.

Ujungnya, terbit Keppres tentang Citarum tanggal 14 Maret 2018. “Jadi bapak-ibu sekalian kenapa Citarum seperti itu, karena antara lain tiap hari dipenuhi 3,3 ton tinja manusia. Ditambah kotoran hewan, dan tentu saja sampah yang tiap hari 20 ribu ton banyaknya mengotori Citarum,” kata Doni.

Lebih parah lagi, di Citarum Doni juga menemukan limbah medis, termasuk kantong HIV/AIDS. Ia temukan dengan mata-kepala sendiri, karena Doni memang benar-benar terjun langsung ke sungai, seperti saat ia menyusuri Ciliwung dulu.

Tak heran jika ada kasus aneh. Sejumlah wanita menderita sakit keputihan yang tak sembuh-sembuh. Setelah diperiksa lebih dalam, hasil lab merujuk pada satu jenis bakteri yang berasal dari rumah sakit. Saat ditanya, apakah pernah sakit dan dirawat di rumah sakit, mereka menjawab tidak. Apakah pernah bekerja di rumah sakit, mereka juga menggelengkan kepala.

Usut-punya-usut, mereka terkena bakteri itu karena mencuci pakaian, termasuk pakaian dalam, di air Sungai Citarum. Khawatir limbah medis juga merebak di sungai-sungai lain, maka Doni meminta staf untuk mengecek kondisi air Ciliwung dan Cisadane.

Ternyata, di kedua sungai itu juga terdapat bakteri limbah medis. Itu artinya, makin banya pihak yang harus dilibatkan dan disadarkan serta diperbaiki perilakunya, agar tidak merusak air sungai.

Sungai Peradaban

Satu kesimpulan Doni, bahwa menata sungai tidak bisa setengah-setengah, melainkan harus total dari hulu sampai hilir. Semua komponen bangsa harus dilibatkan.

Kata kuncinya, sungai adalah sumber kesejahteraan masyarakat. Jika masyarakat tau manfaat dan merasakan manfaatnya, tidak ada satu anggota masyarakat pun yang tidak akan membantu program penataan sungai.

Kita, kata Doni, harus menjadikan sungai ke dalam program prioritas pemerintah. Sebab, air (sungai) adalah sumber kehidupan, karenanya, sungai adalah peradaban sebuah bangsa. “Air hidupku, sungai nadiku, maritim budayaku, sangat bagus slogan itu. Tetapi ada satu ilustrasi dari saya, air adalah sumber kehidupan, sungai adalah peradaban sebuah bangsa,” ujar Doni mantap.

Jika mata air kita musnahkan, sungai kita cemari, itu artinya kita belum lagi menjadi bangsa beradab. Untuk menjadi bangsa yang beradab, mari lindungi agar sungai bisa bermanfaat untuk rakyat.

Memperbaiki kualitas sungai, sama artinya menjadi pahlawan kemanusiaan. Sebab, akan banyak nyawa manusia terselamatkan. 

Kelak, suatu hari, tapi tak boleh lama, dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya, kita mendambakan mendengarkan syair syair Bengawan Solo yang teduh sambil berdiri memandangi aliran bening air sungai. Sudah pasti, itu membahagiakan sekaligus menyehatkan batin dan jasmani kita.

"Mata airmu dari Solo, Terkurung gunung seribu, Air mengalir sampai jauh, Dan akhirnya ke laut"

Laporan Egy Massadiah dari Kongres Sungai

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Hasanudin Aco
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas