Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Munas Partai Golkar

Strategi Ciamik Bamsoet di Golkar

Saya memahami sepenuhnya, dan saya malah melihat strategi yang ciamik (sangat baik) yang dikembangkan Bamsoet di balik pengunduran dirinya itu

Strategi Ciamik Bamsoet di Golkar
Tribunnews/JEPRIMA
Seksi Bidang Pratama Partai Golkar Bambang Soesatyo saat menghadiri acara Musyawarah Nasional X Partai Golkar di Hotel Ritz Carlton, Jakarta Selatan, Selasa (3/12/2019). Bambang Soesatyo menyatakan mundur dari pencalonan Ketua Umum Partai Golongan Karya atau Golkar. Pengunduran tersebut dilakukan usai bertemu Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, Politikus Senior Golkar Luhut Binsar Pandjaitan, dan Aburizal Bakrie. Tribunnews/Jeprima 

Oleh Wina Armada Sukardi, wartawan senior dan pengamat sosial politik

TRIBUNNEWS.COM - Banyak orang terkejut manakala Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengundurkan diri dari pencalonan ketua umum Partai Golongan Karya (Golkar) pada saat-saat terakhir dimulainya Musyawarah Nasional (Munas) Golkar.

Bahkan ada yang sampai merasa tidak mengerti mengapa hal itu terjadi. Tapi saya tidak. Saya tidak terkejut sama sekali. Saya tidak heran. Saya memahami sepenuhnya, dan saya malah melihat strategi yang ciamik (sangat baik) yang dikembangkan Bamsoet di balik pengunduran dirinya itu.

Pertama-tama, dengan tetap menunjukan hasrat untuk meraih ketua umum Golkar sebelum Munas dimulai, Bmsoet telah menciptakan diskursus, wacana dan debat yang terus menerus mengenai perhelatan pemilihan ketua umum Golkar. Dengan cara itu, apapun isinya, hampir setiap hari ada berita atau ulasan mengenai pelaksanaan Munas Golkar. Ini memberikan berbagai keuntungan buat Golkar.

Pemberitaan yang terus menerus ikhwal Golkar otomatis membuat Golkat mampu meraih publikasi yang dahsyat, dan ini dapat menjaga popularitas Golkar di antara berbagai pemberitaan ketatanegaraan lainnya.

Selanjutnya narasi yang dikembangkan Bamsoet dengan pencalonannya juga memberi dampak positif buat Golkar sendiri. Adanya pencalonan Bamsoet menciptakan “persepsi” kepada publik, Golkar merupakan partai yang demokrasi. Golkar bukanlah partai yang dapat dan mudah diintervensi atau dikendalikan oleh seorang atau sekelompok kecil orang.

Pencalonan Bamsoet menjadi semacam simbol perlawanan bahwa di Golkar biasa terjadi pluralisme, hetrogen dan kebebasan dalam melaksanakan hak konstitusional partai. Bamsoet ingin menunjukan Golkar tidaklah sepetti kebanyakan partai yang dapat “disetir” satu atau beberapa orang saja. Dengan begitu, Bamsoet menunjukan Golkar merupakan partai yang demokratis. Tentu hal ini diharapkan bakal menaikan kredibilitas Golkar.

Banyak pihak yang keliru dengan menuding dengan pengunduran dirinya, Bamsoet telah “menghianati” para loyalisnya. Ini juga keliru. Bamsoet memiliki perhitungan yang lebih akurat. Pengunduran dirinya justeru terutama untuk memprotek atau melindungi para royalisnya itu. Mengapa? Kalau Bamsoet tetap maju bertandingan memperebutkan kursi ketua umum, berarti dia dihadapkan pada kemungkinan: meraih semuanya, atau justeru kehilangan semuanya. Artinya, kalau Bamsoet tetap bertarung, kalau dia keluar sebagai pemenang, maka dia memang dapat mengendalikan total Golkar. Sebaliknya, kalau

Bamsoet keok, maka dia kehilangan seluruhnya di Golkar. Kalau cuma jabatannnya sebagai ketua MPR saja yang dicopot, mungkin buat Bamsoet dia sudah ikhlas dan sudah sangat siap menerimanya. Sebagai patarung dia tahu persis konsukuensi dari kekalahan. Tetapi bukan ini yang menjadi konsennya. Dia menyadari seandainya dia bertarung dan keok, lebih dari itu, seluruh loyalisnya bakal pula “terdepak” dari posisi-posisi di Golkar, mulai dari yang strategis sampai yang “ecek-ecek” sekalipun.

Hal ini karena selesai “pertempuran,” pastilah pihak lawan bakal melakukan babat rumput! Semua personil yang terkait dengan Bamsoet sudah pasti dibabat dan disikat habis dari jajaran kepengurusan Golkan, termasuk tidak diberikkan menduduki jabatan publik lain. Salah satunya dalam penyusunan calon legislatif yang akan datang, loyalis Bamsoet tidak akan diberikan kesempatan lagi.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...

Berita Terkait :#Munas Partai Golkar

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas