Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Gus Ghofur, Harapan NU dan Islam Moderat Indonesia

Gus Ghofur adalah putra kelima KH. Maimoen Zubaer dari istri kedua. Sementara Mbah Moen adalah keturunan ke-13 Sunan Giri.

Gus Ghofur, Harapan NU dan Islam Moderat Indonesia
Youtube
Gus Ghofur

Gus Ghofur, Harapan NU dan Islam Moderat Indonesia

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

TRIBUNNEWS.COM - Gus Ghofur adalah salah satu alumni Al-Azhar yang mengusung Islam Moderat, dan sebagai representasi peranan Azhariyyin di Indonesia. Bersama Gus Dur, Gus Mus, dan Prof. Quraish Shihab, Gus Ghofur adalah contoh lain bagaimana Azhariyyin Indonesia berturut serta memberi sumbangsih pemikiran dan keteladanan dalam rangka membangun masa depan agama, bangsa dan negara Indonesia.

Gus Ghofur Maimoen ini adalah putra ke-5 KH. Maimoen Zubair dari istri kedua beliau, Ibu Nyai Hajjah Masthi’ah. Sementara Mbah Moen sendiri adalah turunan ke-13 Sunan Giri Gresik (Rd. Muhammad Ainul Yaqin) dari garis ayah Kiai Zubeir bin Dahlan, atau keturunan ke-11 Prabu Geusan Ulun Sumedang yang beristikan Ratu Harisbaya Madura dari jalur ibu. Menurut TB. M. Nurfadhil Satya Tirtayasa al-Husaini al-Bantani, Mbah Moen itu keturunan ke-34 Rasulullah saw.

Pendidikan Dasar hingga Menengah Gus Ghofur diselesaikan di Madrasah Ghazaliyah Syfi’iyah, Rembang. Tahun 1993, ia melanjutkan Pendidikan Tinggi ke Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Prestasi sudah tampak sejak S1 hingga S2 di program Ushuluddin Jurusan Tafsir. Nilainya selalu “Jayyid Jiddan”. Tahun 2002, gelar doktor pun disabet dengan nilai "Summa Cumlaude."

Sepengetahuan penulis, Gus Ghofur lebih banyak diam dan berbicara hanya ketika diperlukan. Sebaliknya, beliau lebih banyak berpikir dan berkarya. Jangan heran bila ketebalan disertasinya mencapai 1.700 halaman. Disertasi berjudul “Hasyiyah al-Shaykh Zakariya al-Anshari’ala Tafsir al-Baidlowi min Awwal Surah Yusuf ila Akhir Surah Sajdah” memang mengundang decak kagum tim penguji, serta mahasiswa Indonesia di Al-Azhar yang kenal beliau. Jika tim penguji mengatakan, “syarah dan komentar yang ditulis Syeikh Abdul Ghofur ini lebih baik dari yang ditulis Syaikhul Islam Syeikh Zakariya al-Anshari sendiri.” Hal itu masuk akal dan tidak berlebihan.

Penulis mengamini bila Gus Ghofur dinobatkan sebagai kader terbaik Pengurus Cabang Istimewa Nadhlatul Ulama (PCINU), Mesir. Sebagaimana Dr. Fadlolan Musyaffa (Rais Syuriah PCINU Mesir) kala itu berkomentar, “andai saja ada nilai di atas Summa Cumlaude, mungkin nilai itu yang akan diberikan pada sidang disertasi Gus Ghofur.”

Prestasi yang diukir sejak dari Mesir terus dikembangkannya ke Indonesia. Gus Ghofur Maimoen memberi contoh keteladanam bagi para santri dan mahasantri yang kuliah di Sekolah Tinggi Al-Anwar (STAI), Sarang, Rembang. Beliau juga teladan bagi masyarakat sebagai sosok yang berilmu tinggi, tekun, santun, dan disiplin. Sudah jamak jadi perbincangan di tengah masyarakat sosok Gus Ghofur yang disiplin waktu. Misal kala beliau mendatangi undangan, selalu saja “On Time” (tepat waktu), tetapi bahkan “In Time” (datang lebih awal).

Disiplin waktu ini dipraktikkan juga dalam disiplin belajar. Sekalipun sibuk mengurus pesantren dan menjabat Ketua STAI Al-Anwar, Gus Ghofur istiqomah menjalankan riyadhah belajarnya sejak jam 03.00 dini hari. Ia sudah pasti masuk ke perpustakaan pribadinya untuk menimba ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Prinsip ini juga tercantum dalam disertasinya. “jika kamu ingin mengubah nasibmu maka belajarlah!” Gus Ghofur mengutip pesan Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari.

Sebagai seorang gus yang pembelajar, pantaslah beliau memimpin jabatan tertinggi di perguruan tinggi al-Anwar. Namun, yang lebih esensial dari itu adalah konsepnya tentang keseimbangan (tawazun) antara nasionalisme dan agamisme. Dengan kerangka paradigmatik yang tawazun ini, makna Islam Nusantara menjadi lebih segar.

Halaman
123
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas