Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Kado Ultah ke-67 Cak Nun, Sunan Kalijaga Era Milenial

Kecintaan Cak Nun pada budaya membuatnya tidak pernah sedikitpun berpaling dari dunia yang melambungkan namanya tersebut.

Kado Ultah ke-67 Cak Nun, Sunan Kalijaga Era Milenial
Tribun Jateng/Hermawan Handaka
Ribuan warga Semarang, Jawa Tengah, dan Jamaah Maiyah tumpah ruah memadati Klenteng Sam Poo Kong dalam acara ''Sinau Bareng Cak Nun, Kiai Kanjeng bersama Polda Jateng, Sam Poo Kong, dan Tribun Jateng'' yang belangsung Kamis (18/4/2019) lalu. Rabu 27 Mei 2020 hari ini, Cak Nun merayakan hari ulang tahun yang ke-67. Tribun Jateng/Hermawan Handaka 

Pada akhir tahun 1969 ketika masih SMA, Cak Nun memulai proses kreatifnya dengan menjalani hidup “tirakat” di Malioboro,  Yogyakarta selama lima tahun hingga 1975.

Ia menggelandang dan menjadi seniman bohiman. Kala itu, Malioboro masih  menjadi tempat yang asyik bertemunya para aktivis mahasiswa, sastrawan, dan seniman Yogyakarta.

Malioboro juga menjadi  salah satu poros dalam jalur Bulaksumur-Malioboro-Gampingan yang menandakan dialektika intelektual-sastra-seni rupa.

Di  Malioboro ini, Cak Nun, bersama Ebied G Ade, Teguh Karya, Iman Budhi Santosa, Ragil Suwarna Pragolapati, Linus Suryadi  AG, Korrie Layun Rampan dan lainnya  bergabung dengan PSK (Persada Studi Klub), sebuah ruang studi sastra bagi penyair  muda Yogyakarta yang diasuh oleh penyair misterius Umbu Landu Paranggi.

Sejak berguru Pada Umbu itu, kebelingan Cak Nun makin menjadi. Ia lebih sering protes dan berpikir paradosal.

Bahkan, ia sering bolos sekolah karena asyik dengan dunia kebudayaan. Terutama sastra dan  teater. Saking asyiknya, ia pernah  membolos hampir 40 hari dalam satu semester.

Ini membuat ia mulai tidak disukai guru-gurunya, ditambah rambutnya  gondrong, pakian yang lusuh, dianggap melanggar peraturan dan ketertiban sekolah.

Tapi ia mengatakan bahwa dirinya lebih  suka mencari hal-hal yang belum diketahuinya namun tidak didapatkannya di sekolah. Ia  juga mengaku lebih sering  berpikir yang berbeda dari jamaknya yang dipahami masyarakat.

Debut pertamanya dalam kebudayaan, tanggal 8 Desember 1980, Cak Nun dan Teater Dinastinya mementaskan puisi di  Teater Arena Taman Ismail Marzuki (TIM) yang berjudul Tuhan.

Pembacaan puisi yang diiringi musik gamelan Jawa pada masa  itu bisa menghentak banyak kalangan, karena tidak lazim.

Halaman
1234
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas