Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Refleksi Akhir Tahun, Pengembangan Pariwisata Danau Toba Harus Terpadu
Penetapan kawasan Danau Toba sebagai salah satu destinasi pariwisata super prioritas hal yang wajar
Editor: Sanusi
Oleh: Ir Sanggam Hutapea, MM, Pemerhati dan pelaku pariwisata yang sangat vokal menyuarakan wisata Danau Toba.
TRIBUNNEWS.COM - Danau Toba merupakan danau hasil letusan gunung berapi pada puluhan ribu tahun lalu telah dicanangkan Presiden Joko Widodo salah satu dari empat destinasi pariwisata super prioritas.
Penetapan kawasan Danau Toba sebagai salah satu destinasi pariwisata super prioritas hal yang wajar mengingat keindahan alam Danau Toba yang terbentang di 7 kabupaten, yakni Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi, Karo, dan Samosir merupakan potensi besar sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia.
Sejak penetapan 10 destinasi prioritas oleh Presiden Jokowi, perkembangan pembangunan di kawasan Danau Toba dari tahun ke tahun memang sudah terlihat , namun koordinasi antar pemerintah daerah belum dilakukan secara maksimal. Artinya pemerintah daerah di 7 kabupaten masih jalan sendiri-sendiri.
Sanggam Hutapea, pemerhati dan pelaku pariwisata mengulas berbagai masukan dan tantangan untuk menjadikan Danau Toba sebagai destinasi wisata kelas dunia, sekaligus refleksi akhir tahun 2020, memaparkan berbagai pandangan yang cukup mendasar untuk pengembangan dan pembangunan kawasan Danau Toba menuju wisata kelas dunia.
Pengembangan kawasan Danau Toba sebagai destinasi wisata internasional harus dilakukan secara terpadu dan terintegrasi di antara aspek pendukung lainnya.
Akses ke Danau Toba di era pemerintahan Jokowi sudah sangat terbuka, karena pemerintah memberikan perhatian penuh dengan membangun jalan tol guna memperpendek jarak tempuh ke Danau Toba.
Demikian juga dengan pembangunan bandara Internasional Silangit di Siborong-borong Tapanuli Utara, yang makin mendekatkan wisata langsung menikmati keindahan kawasan Danau Toba.
Akses transportasi di danau juga sudah membaik dan memadai, apa lagi dengan kehadiran beberapa kapal penyeberangan yang diluncurkan pemerintah di beberapa lokasi, seperti kapal penyeberangan dari Tigaras Kebupaten Simalungun ke Samosir, penyeberangan dari Muara ke Samosir, penambahaan kapal penyeberangan dari Ajibata ke Ambarita Samosir, serta ketersediaan kapal kapal milik pengusaha lokal yang sudah memenuhi syarat laik berlayar.
Akan tetapi, kawasan Danau Toba sebagai obyek yang diandalkan menjadi daya tarik mendatangkan wisatawan masih monoton mengandalkan keindahan alamnya saja.
Artinya, menuju destinasi wisata kelas dunia, tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam Danau Toba, tetapi harus digali dan ddikembangkan berbagai potensi lainnya yang ada di kawasan Danau Toba, seperti menjadikan mengembangkan sumberdaya alam kawasan Danau Toba yang memiliki potensi di bidang pertanian untuk dijadikan kawasan wisata, berbagai situs budaya yang selama ini belum dikemas.
Jika tidak ada upaya dan kerja keras menggali potensi-potensi terpendam di kawasan Danau Toba, maka perubahan dan pembenahan yang bisa membuat wisatawan tertarik.
Bila hanya menikmati keindahan alam Danau Toba saja, wisatawan yang berkunjung tidak akan betah berlama-lama. Bila wisatawan paling dua atau tiga hari saja betah menikmati keindahan alam Danau Toba, maka akan sulit untuk menjadikan Danau Toba sebagai tujuan utama wisatawan.
Alumni pasca sarjana Universitas Gajah Mada itu mengharapkan tujuh kabupaten yang daerahnya bersentuhan langsung di kawasan Danau Toba di tahun 2021 dapat menjalin kerjasama yang permanen dan sepakat membangun destinasi wisata di kawasan Danau Toba.