Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Manhaj Tarbiyah Kaum Sufi: dari Takhalli, Tahalli, hingga Tajalli

Jalan utama para sufi sering kali disederhanakan menjadi tiga konsep yang mudah dimengerti.

Manhaj Tarbiyah Kaum Sufi: dari Takhalli, Tahalli, hingga Tajalli
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon. 

Manhaj Tarbiyah Kaum Sufi: dari Takhalli, Tahalli, hingga Tajalli

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

TRIBUNNEWS.COM - Jalan yang ditempuh para Sufi adalah jalan utama, yang bahkan juga dipilih para Fuqaha’. Imam asy-Syafi’i, Pendiri Mazhab Syafi’iyah, menerangkan tiga perkara yang paling disukainya; tidak memaksakan diri (tark al-takalluf), bergaul dengan lemah lembut (talaththuf), dan mengikuti tarekat ahli tasawuf (Ismail bin Muhammad Al-Ajluni, Kasyf al-Khafa wa Muzil al-Ilbas ‘amma Isytahara min al-Ahadits ‘ala Alsinatinnas, 1/341).

Jalan utama para sufi sering kali disederhanakan menjadi tiga konsep yang mudah dimengerti dan diamalkan, seperti Takhalli, Tahalli dan Tajalli. Tiga istilah konseptual ini bagaikan terminal-terminal yang harus dilalui oleh sebuah perjalanan untuk mencapai tujuan. Tujuan para Sufi tiada lain adalah Allah Swt. Ahmad bin Hanbal, Pendiri Mazhab Hanbali, mengatakan, “aku tidak tahu apakah ada kaum yang lebih mulia dibanding para Sufi,” (Muhammad as-Safarayini, Ghadza’ul Lubab Syarh Manzhumatil Adab, 1/120).

Kemuliaan para Sufi berakar dari perhatian utama mereka untuk menata hati dan pikiran, sebagai hulu bagi setiap perilaku dan perbuatan, dalam kehidupan di dunia. Secara umum, kaum Sufi menempatkan tindakan manusia lahir dari hati dan pikiran. Jika hati baik maka perbuatan akan baik, begitupun sebaliknya. Rasulullah saw sendiri sudah bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuhnya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia,” (HR. Bukhari, no. 52; Muslim, no. 1599).

Perilaku yang baik melahirkan pergaulan yang baik, dan pergaulan yang baik adalah awal membangun masyarakat, bangsa dan negara. Itulah mengapa Imam as-Syafi’i sangat mencintai tarekat atau jalan yang ditempuh oleh para Sufi, karena perhatian kaum Sufi tertuju untuk membersihkan hati manusia dari keburukan, agar tidak lahir perbuatan nyata yang buruk-destruktif.

Membersihkan hati agar tidak menimbulkan kerusakan atau perilaku merusak merupakan tahapan paling awal bagi seorang Salik (penempuh jalur spiritual kaum Sufi). Pembersihan disebut juga sebagai Takhalli, yang berasal dari akar kata Takhalla-yatakhalla-takhalliyan. Berarti mengosongkan diri, melepaskan dari segala dosa, maksiat, perbuatan sia-sia. Takhalli merupakan terminal awal sebelum menuju terminal berikutnya.

Ahmad at-Thayyib ibnu al-Basyir mengutip kata-kata golongan orang-orang Arifbillah, “man takhalla tahalla, wa man tahalla tawalla, wa man tawalla tadalla, wa man tadalla tajalla.” Barang siapa yang sudah melakukan takhalli (pembersihan diri) maka dia akan berias diri (tahalli). Barang siapa yang sudah tahalli maka ia akan tawalla (penuh kasih). Barang siapa penuh kasih maka dia akan menambang kemuliaan (tadalla). Barang siapa yang sudah menambangnya maka ia akan mengalami tajalli Tuhan (Ibnu al-Basyir, an-Nafs al-Rahmani fi al-Thur al-Insani, 270).

Halaman
123
Ikuti kami di
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas