Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Dari Ketum ke Rais ‘Amm PBNU; Menagih Janji Jargon Al-Muhafazhah

Sampai di level ini, pemilihan Rais ‘Amm Syuriyah maupun Ketum Tanfidziyah seakan-akan dua dimensi yang terpisah

Dari Ketum ke Rais ‘Amm PBNU; Menagih Janji Jargon Al-Muhafazhah
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Dari Ketum ke Rais ‘Amm; Menagih Janji Jargon Al-Muhafazhah

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc. MA*

TRIBUNNEWS.COM - Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama kemarin merekomendasikan Muktamar NU ke-34 akan diselenggarakan pada Desember 2021. Otomatis akan ada pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah dan Rais ‘Amm Syuriyah. Namun yang jauh lebih menarik sebenarnya adalah soal tradisi pemilihan itu sendiri, yang stagnan tanpa perubahan, seakan-akan menjadi tradisi yang tidak mau berkembang.

Sejak pertama kali Rais ‘Amm Syuriah dipegang oleh Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari (1926-1947) sampai era Kiyai Miftachul Akhyar (2018-sekarang), tidak ada satupun Rais ‘Amm Syuriyah yang berasal dari Tanfidziyah. Begitu pun, sejak Ketum Tanfidziyah dipegang oleh Kiyai Hasan Gipo (1926-1952) sampai era Kiyai Said Aqil Siradj (2010-sekarang), tidak ada satupun Ketum Tanfidziyah yang naik ke Syuriyah.

Sampai di level ini, pemilihan Rais ‘Amm Syuriyah maupun Ketum Tanfidziyah seakan-akan dua dimensi yang terpisah. Tidak ada pintu dan celah yang menghubungkannya. Pengurus Tanfidz tidak bisa masuk ke Syuriyah, begitu pula Pengurus Syuriyah tidak ada yang berasal dari Tanfidz. Model ini menjadi tradisi tersendiri yang bertahan hingga sekarang, dan sejalan dengan prinsip al-muhafazhah ‘alal qadimis sholih.

Tradisi pemilihan ini perlu mendapatkan sentuhan yang lebih artistik lagi. Sudah saatnya mencoba membuka ‘kran’ dan saluran penghubung antar dua lembaga; tanfidz dan syuriyah. Mencoba sesuatu yang baharu, selagi itu lebih baik, maka tidak bertentangan dengan spirit kita, yaitu al-akhdzu bil jadidil ashlah. Prinsip al-akhdzu akan terasa berat bagi siapapun yang fanatik dengan prinsip al-muhafazhah.

Dalam praktiknya, prinsip al-akhdzu bil jadidil ashlah dapat diwujudkan dengan mendobrak tradisi yang ada. Misalnya, Ketua Umum Tanfidziyah secara otomatis menjadi Rais ‘Amm di Syuriyah. Atau, minimal, seluruh pengurus Tanfidziyah adalah nama-nama potensial yang akan dipilih oleh dewan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) untuk menjadi Rais ‘Amm.

Bagaimana pun, mendobrak tradisi lama dengan berpegang pada al-akhdzu bil jadidil ashlah tidak mengurangi otoritas AHWA yang berwenang memusyawarahkan calon Rais ‘Amm. Bahkan, dobrakan ini akan membantu AHWA meringankan beban dalam memilih Rais ‘Amm. Bagaimana tidak, sementara para pengurus Tanfidziyah, lebih-lebih demisioner Ketum Tanfidz, telah banyak berjasa dalam pengabdian pada Ormas NU.

Melapangkan jalan bagi para pengurus tanfidz untuk melanjutkan pengabdian maupun perjuangan mereka di tingkatan syuriyah adalah amal jariyah terbesar bagi forum AHWA. Apalagi ada pengurus tanfidz yang berhasil mengabdi di jabatan sebagai Rais ‘Amma, itu akan jadi catatan sejarah sepanjang perjalanan NU.

Hubungan Tanfidziyah dan Syuriyah kita bisa sederhanakan bagaikan hubungan ruh/ide dengan raga/materi. Lembaga Syuriah berdasar Anggaran Dasar Pasal 18 bertugas dan berwenang membina dan mengawasi pelaksanaan keputusan-keputusan organisasi sesuai tingkatannya. Sedangkan Tanfdziyah berdasar Anggaran Dasar Pasal 19 bertugas dan berwenang menjalankan pelaksanaan keputusan-keputusan organisasi sesuai tingkatannya. Jadi, hubungan ini adalah hubungan pengawas dan pelaksana.

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas