Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

Tawakkal dan Koherensi Hati

Koherensi juga berdampak pada keseimbangan body, otak, dan hati. Keseimbangan tersebut dapat menghantarkan seseorang memiliki self-control

Editor: Husein Sanusi
Tawakkal dan Koherensi Hati
Istimewa
Ubaydillah Anwar | Heart Intelligence Specialist 

Tawakal adalah ibadah hati. Oleh Ibn Taymiyah dikatakan ibadah hati inilah yang menjadi pokok. Ibadah lisan dan anggota lain adalah cabang atau penyempurna (mukmilah). Bahkan Ibnu Qoyyim menyatakan bahwa ibadah hati ini jauh lebih diwajibkan. Tanpa ibadah hati, ibadah anggota badan yang lain salah sasaran.  

Karena berupa ibadah hati, maka ketika seseorang bertawakal tidak lantas menghentikan pikirannya untuk berpikir. Atau menghentikan kaki, tangan, mata, dan lain-lain untk diam.  Rasulullah SAW mengajarkan, “Ikat dulu ternakmu barulah tawakal, “ demikian hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzy.

Mengenai pengertian tawakal, ulama tasawuf sudah banyak menjelaskan dengan berbagai pandangan. Tapi kalau kita telaah, ada tiga kata kunci yang konsisten dalam penjelasan tersebut. Yaitu: menyerahkan (tafwidh), percaya sepenuhnya (ats-tsiqoh), dan bergantung (al-i’timad).

Orang yang bertawakal itu menyerahkan urusan yang di luar kontrolnya kepada Allah, seperti hasil dari usaha. Orang yang bertawakal itu percaya penuh atas pertolongan Allah atau hasil yang ditakdirkan Allah. Orang yang bertawakal itu hanya mengandalkan Allah SWT, meskipun tetap butuh manusia seperti kerjasama.

Secara tingkatan, orang yang bertawakal kerap dikelompokkan menjadi tiga. Istilah “tingkatan” ini bukan dari Allah, tetapi dari konstruksi ulama terhadap penjelasan al-Quran dan hadits tentang tawakal.  

Tingatan bawah adalah orang yang bertawakal namun masih mendekte Allah soal hasil. Kalau bisa tidak pernah terjadi kegagalan, misalnya begitu.  Hanya sukses yang diharapkan dari Allah. Allah menjadi ‘objek’ skenarionya. Ini terjadi pada umumnya manusia.

Tingkatan menengan adalah orang yang  bertawakal dengan tidak lagi mengkait-kaitkan penyebab atau usaha yang dilakukannya. Artinya, seseorang tetap berusaha optimal namun tidak menjadikan usahanya itu sebagai andalan untuk sebuah hasil. Hasilnya diserahkan kepada Allah, meski belum konsisten seperti itu hatinya.

Tingkatan atas adalah orang yang bertawakal dan memahami penuh hakikat tawakal. Yaitu menyerahkan urusan, bergantung kepada-Nya, dan menerima apa yang akan ditakdirkan Allah secara konsisten atau telah menjadi sifat hati.

Koherensi Hati

Hasil research ilmuwan HeartMath Institute menyimpulkan bahwa ketika seseorang mengeluarkan apresiasi, syukur, kasih sayang, dan cinta, maka dari hati jasmaninya (jantung) akan keluar energi yang mengharmoniskan hubungan dada (hati) dan kepala (otak).

Halaman
123
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas