Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

Muktamar NU

Welcome! Habib Luthfi dan Kiyai Sa’id, Solusi Kepemimpinan NU di Muktamar ke 34

Muktamar masih dua bula lagi. Apapun ide dan siapapun nama yang dicalonkan tidak bisa disebut keputusan final.

Editor: Husein Sanusi
Welcome! Habib Luthfi dan Kiyai Sa’id, Solusi Kepemimpinan NU di Muktamar ke 34
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Welcome! Habib Luthfi dan Kiyai Sa’id, Solusi Kepemimpinan NU di Muktamar ke 34

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc.MA

TRIBUNNEWS.COM - Muktamar NU 34 di Lampung akan diselenggarakan pada Desember 2021. Dalam dua bulan lebih sedikit ke depan, jamaah Nahdliyyin akan memiliki pemimpin baru. Namun, waktu seakan bergulir lebih cepat, karena mobilitas pikiran dan kegiatan manusia jauh lebih progresif. Itu bisa dilihat dari persiapan setiap team sukses yang menjagokan figur ideal masing-masing.

Kita bisa ambil contoh kasus Pengurus Wilayah (PW) Jawa Timur, yang sudah mengeluarkan selebaran berisi dukungan terhadap pasangan calon Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai Ketua Tanfidziyah dan Kiyai Miftachul Akhyar sebagai Rais Amm Syuriyah. Namun, dua nama ini baru memenuhi harapan sebagian jamaah Nahdliyyin Jatim Khususnya.

Kebuntuan ini sangat dapat dimaklumi, karena kita semua sedang hidup dalam atmosfer demokratis. Satu cabang setara dengan cabang lainnya, satu wilayah setara dengan wilayah lainnya. Kebuntuan pun mengkristal. Semua orang gelisah, menantikan adanya secercah kearifan pemikiran dan kebijaksanaan yang mampu memecah kebuntuan.

Entah bagaimana caranya, tiba-tiba kiyai-kiyai sepuh mendorong Kiyai Said Aqil Siradj untuk kembali maju menjadi Ketum Tanfidziyah. Salah satu nama yang bisa disebut adalah Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya. Beliau sangat merestui Kiyai Said maju kembali. Pada awalnya, Kiyai Said tidak berkenan karena ingin memberikan kesempatan kepada generasi muda, sampai kemudian Habib Luthfi menyatakan siap mendampingi sebagai Rais Amm Syuriyah.

Tidak saja kiyai-kiyai sepuh, hari demi hari banyak pengurus di tingkat PC dan PW mulai menyatakan puas dan siap mendukung secara totalitas Kiyai Said-Habib Luthfi. Dua nama ini pun hadir sebagai pemikiran alternatif yang mendinginkan, menyejukkan, menenangkan. Gejolak dan kobaran di dada generasi muda Nahdliyyin seperti kami dan yang sepantaran, mulai reda.

Tentu saja, Muktamar masih dua bula lagi. Apapun ide dan siapapun nama yang dicalonkan tidak bisa disebut keputusan final. Setiap individu (kubu) dipersilahkan untuk mengujinya kembali. Termasuk merenungi kembali sejauhmana Kiyai Said dan Habib Luthfi bisa disebut sebagai pasangan paling ideal hingga saaat ini.

Bagi penulis, pandangan para kiyai sepuh dan pengurus cabang maupun wilayah tidak serta merta intuitif, berasaskan ketulusan dan kebersihan hati berkhidmah pada NU. Pastinya ada sisi-sisi rasional yang para kiyai sepuh tersebut ingin sampaikan.

Setelah sejauh ini menghikmati usulan para kiyai sepuh tersebut, penulis menemukan alasan-alasan rasional di baliknya. Para kiyai sepuh sangat arif biijaksana dalam menempatkan Kiyai Said di Tanfidziyah dan Habib Luthfi di Syuriyah. Walaupun, penulis sendiri sempat kebingungan, sebelum berpapasan dengan pemikiran Dr. Nadirsyah Hose, Ph.D (Gus Nadir).

Halaman
12
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
berita POPULER
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas