Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Mustofa Kemal Attaturk Tidak Sekuler
Bagi mahasiswa UIN, IAIN dan STAIN, sepak terjang dan pemikiran Mustafa Kemal Attaturk pasti tidak asing.
Editor: Malvyandie Haryadi
Selama tidak menimbulkan gangguan kepada publik, monggo.
Mau pakai jilbab lengkap dengan cadar, pakai kalung salib, bangun tempat ibadah, bebas.
Silakan saja menjalankan agama, asal tidak mengganggu hak orang lain. Simple!
Saya pernah ke Singapora, Hongkong, Macau, Amerika dan Kanada.
Umat beragama di sana punya kebebasan menjalakan ajaran agamanya, dan negara menjamin hak-hak mereka.
Apakah Turki di bawah kekuasaan Mustafa Kemal Attaturk memberi kebebasan beragama sebagaimana negara-negara sekuler tersebut? Tidak!
Jilbab dilarang, adzan diubah bahasanya, masjid dijadikan musium, semua yang berbau Islam tidak diperbolehkan ada di Turki.
Apakah ini sejuler? Tidak!
Sekuler itu memisahkan agama dari urusan negara. Bukan melarang orang menjalankan ajaran agamanya.
Jadi, kalau selama ini orang bilang bahwa Mustafa Kemal Attaturk bapak sekuler, itu salah kaprah.
Apakah tokoh seperti ini akan menjadi nama jalan di ibu kota Indonesia yang notabene sangat menghargai dan menjunjung tinggi agama?
Inilah yang menunai protes banyak pihak.
Protes tidak hanya oleh warga Jakarta, tapi telah menjadi protes nasional.
Kabarnya, Gubernur DKI telah mendapat banyak surat dari berbagai elemen masyarakat: baik organisasi, komunitas maupun daerah.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.