Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

Hassan Hanafi, Penggerak Peradaban Berbasis Aqidah Islam

Perubahan kehidupan yang terus-menerus inilah, bagi Hanafi, menuntut analisa rasional

Editor: Husein Sanusi
Hassan Hanafi, Penggerak Peradaban Berbasis Aqidah Islam
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Hassan Hanafi, Penggerak Peradaban Berbasis Aqidah Islam

*Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc. MA

TRIBUNNEWS.COM - Hassan Hanafi (86), intelektual Mesir didikan Perancis,  berhasil menjadikan aqidah Islam sebagai basis gerakan membangun peradaban. Umat muslim Indonesia dapat mengujinya berdasar pengalaman kebangsaannya sendiri. Lebih-lebih, perdebatan aqidah Islam sering dijadikan alasan membenturkan keislaman dengan keindonesiaan atau kenusantaraan.

Dalam “Minal ‘Aqidah ilas Tsaurah” jilid 1, terbitan Dar at-Tanwir, Beirut, Hassan Hanafi membahas kemutlakan Allah swt.  Penjelasan tentang-Nya di dunia ini tidak terbatas. Wujud-Nya mutlak. Sedangkan kemampuan manusia mengungkap dzat-Nya terbatas (Hanafi, 1988: 8).

Prinsip aqidah semacam itu penting, supaya umat muslim lebih bersikap pluralis, menghindari memutlakkan diri sendiri dan kelompok. Karena bagi Hassan Hanafi, prinsip dasar karakter kehidupan di alam raya ini adalah keragaman,  perubahan terus-menerus, tanpa kepastian, dan bersifat hipotesis semata (Hanafi, 1988/1: 9).

Sementara itu, tindakan memutlakkan diri sendiri dan kelompok, ormas keagamaan maupun partai politik, adalah tindakan yang berseberangan dengan prinsip keragaman kehidupan. Apalagi kejumudan berpikir, bertentangan dengan prinsip perubahan ke arah lebih baik.

Perubahan kehidupan yang terus-menerus inilah, bagi Hanafi, menuntut analisa rasional. Seorang dituntut mampu mendialektikakan pemikiran (afkar) dengan peristiwa/pengalaman hidup (waqa'i'). Dari dialektika rasionalitas dan empirisitas ini lahir pengetahuan tentang benar dan salah; baik-buruk ; haq dan batil (1988/1:10).

Karena itulah, umat muslim tidak boleh menutup diri, sebaliknya harus selalu terbuka untuk berdialog dengan kepala dingin; menyikapi perbedaan dengan arif bijaksana; pintar mengatur nafas agar tidak emosi melihat orang lain berseberangan dengan pilihan jalan hidup dirinya sendiri. Kesadaran ini harus dimiliki oleh setiap individu muslim.

Bagi Hassan Hanafi, kesadaran individual (al-wa'yu al-fardiy) adalah komponen penting perubahan. Berangkat dari kesadaran individual inilah, upaya penguatan-pemberdayaan publik (tanjid al-jamahir) dapat dilakukan. Karena perubahan besar dalam kehidupan tidak datang dari faktor eksternal (fi'l kharijiy), melainkan dari gerak perubahan di dalam diri setiap individu manusia.
Perubahan lahir dari kesadaran individu yang menjelma kesadaran kolektif, wa'yu al-jamaah (1988/1: 11).

Pepatah bijak mengatakan, rubahlah dirimu sendiri sebelum merubah orang lain. Ini bagaikan prinsip keteladanan. Jadilah teladan kehidupan terlebih dahulu maka kehidupan pasti akan ikut meneladani. Pemikiran Hassan Hanafi sangat jenius dan brilian.

Halaman
12
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas