Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

Cryptocurrency dan Sikap Progresif LBM NU DIY

Zaman tidak mau berhenti. Hari ini, setelah sebelumnya meninggalkan logam menuju kertas, kini kertas pun ditinggalkan menuju digital

Editor: Husein Sanusi
Cryptocurrency dan Sikap Progresif LBM NU DIY
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Cryptocurrency dan Sikap Progresif LBM NU DIY

Oleh: KH. Imam Jazuli,Lc. MA*

TRIBUNNEWS.COM - Setelah saya menulis kritikan berjudul "LBM-NU, Cryptocurrency dan Kejumudan Nalar" (Tribunnews, 22/11/2021), tak lama saya mendapat kiriman dokumen hasil keputusan LBM-NU DIY dari Gus Irwan Masduki. Beberapa saat kemudian, saya menemukan pemberitaan berjudul "LBM PWNU DIY: Crypto Halal" (Bangkitmedia, 22/11/2021). Barulah saya mengatakan dalam hati: "Begini contoh nalar Kiai progresif untuk zaman ini dan generasi mendatang"

Setelah saya baca keseluruhanya, diketemukanlah beberapa nama intelektual muda progresif lainnya yang menjadi penentu final terkait Cryptocurrency. Beberapa perumus dan tokoh yang terlibat saya kenal baik, diantaranya adalah kiai muda; Gus Irwan Masduki, Gus Fajar Bashir, Gus Hilmy Muhammadiyah, Gus Sofiyullah Muzzamil dan Gus Anis Masduki.

Selain nama diatas ada Prof Purwo Santoso, Kiai Fahmi Akbar Idris, Kiai Aguk Irawan, Kiai Syukron Amin, Gus Syahbudi Nataros, Gus Muqorrobien Ma'arufi, dan Gus Dimas Surya al-Faruq. Selain nama-nama diatas yang semuanya karya ilmiahnya bisa dilacak di sejumlah jurnal baik nasional maupun internasional, nama belakangan ini juga cukup dikenal sebagai kiai muda yang progresif, dan intelektual yang memahami hakikat perkembangan dunia mutakhir.

Salah satu bunyi keputusan LBM-NU DIY tersebut adalah:

"Ekonomi merupakan bagian dari ranah hukum Islam yang dinamis. Perkembangan teknologi digital berpengaruh pada perubahan alat tukar, bentuk komoditas, maupun pola transaksi. Hukum Islam tidak mengatur jenis alat tukar yang harus digunakan. Dalam hukum Islam, jenis alat tukar mengikuti kebiasaan suatu komunitas."

Pernyataan LBM-NU DIY di atas merupakan cermin dari logika dan nalar yang progresif, dinamis, berpijak pada hukum sejarah yang terus berubah, dan realitas kehidupan itu sendiri. Terkait jenis alat tukar, misalnya, dirham dan dinar dipakai pada zaman klasik. Mata uang dibuat dari bahan material logam. Materi dan nilai tukarnya saat itu masih setara. Seiring berjalannya waktu, alat tukar berubah menjadi berupa uang kertas. Materi dan nilainya pun ikut berubah. Misalnya nilai tukar uang dollar tidak lagi setara dengan nilai materinya. Tetapi, Islam menerima kenyataan perubahan tersebut.

Zaman tidak mau berhenti. Hari ini, setelah sebelumnya meninggalkan logam menuju kertas, kini kertas pun ditinggalkan menuju digital. Terciptalah saat ini apa yang disebut mata uang kripto (cryptocurrency), yaitu alat tukar baru dan betul-betul baru bila dibanding uang kertas. Uang kripto hanya sekumpulan data biner dalam komputer namun didesain sebagai alat tukar. Jika umat muslim tidak mau menerima kenyataan perubahan zaman semacam ini, maka sebaiknya tolak saja seluruh jenis alat tukar yang berbeda dari zaman Rasulullah Saw.

Untuk itulah, sangat bijaksana logika LBM NU DIY yang mengatakan dalam keputusannya:

Halaman
123
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
berita POPULER
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas