Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Catatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2022: Mengubah Hari Menjadi Gerakan

Sekali lagi, narasi ini sangat mengena terhadap masyarakat yang pernah tertimpa musibah bencana, utamanya bencana alam.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Catatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2022: Mengubah Hari Menjadi Gerakan
Ist
Egy Massadiah, wartawan senior, konsultan media, menulis sejumlah buku serta pembina Majalah “Jaga Alam” 

Khusus 26 April 2022, dibawah nakhoda Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto, BNPB mengusung tema: Keluarga Tangguh Bencana, Pilar Bangsa Menghadapi Bencana.

Suharyanto menegaskan, hendaknya tema itu tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan harus implementatif. Karenanya, Hari Kesiapsiagaan Bencana juga harus diikuti langkah kongkrit pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, dan peringatan dini. Tentunya, dibarengi peningkatan kapasitas lembaga dan SDM-nya

Akar Bencana

Guna mengenali akar bencana, masyarakat harus disosialisasikan mengenai jenis-jenis bencana. Bencana alam yang terjadi di permukaan bumi seperti tsunami, gempa bumi, gunung meletus.

Sedangkan, menurut leaflet Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bencana Hidrometeorologi adalah fenomena bencana alam atau proses kerusakan yang terjadi di atmosfer (meterologi), air (hidrologi), atau lautan (oseanografi).

Contoh bencana hidrometeorologi adalah badai siklon tropis, badai petir, badai es, curah hujan ekstrem, banjir, embun dan suhu dingin.

Secara spesifik, bahkan bisa diklasifikasikan lagi menjadi hidrometeorologi basah dan hidrometeorologi kering.

Rekomendasi Untuk Anda

Beberapa contoh di atas adalah dampak bencana hidrometeorologi basah. Sementara, hidrometeorologi kering, acap terjadi di musim kemarau, yakni kebakaran hutan, kekeringan (krisis air bersih), dan sejenisnya.

Baca juga: Catatan Egy Massadiah dari Lokasi Salat Id Kepala Gugus Tugas Covid-19 Letjen Doni Monardo

Pada Rakornas Penanggulangan Bencana Tahun 2021, Jumat (5/3/2021) disebutkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan bencana paling merugikan bagi Indonesia.

Kerugian ekonomi akibat karhutla mencapai USD 16,1 miliar, atau sekitar Rp 229,6 triliun (kurs Rp 14.266 per dolar AS). Belum lagi kerugian korban jiwa yang tak kalah banyaknya.

Angka tersebut bahkan jauh lebih besar dibandingkan kerugian ekonomi akibat bencana tsunami Aceh pada 2004 silam.

Tsunami Aceh kerugian ekonominya sekitar USD 7 miliar.

Kita sepakat, bahwa kebakaran hutan, selalu menghabiskan ongkos raksasa untuk helikopter water bombing.

Itupun belum menyelesaikan semua masalah.

Solusinya adalah tidak menebang pohon, penanaman lahan yang gersang, dan sejahterakan masyarakat di sekitar agar ikut menjaga hutan.

Halaman 2/4

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas