Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Kepiting untuk Kelestarian Bakau Enggano

Adat Enggano melarang masyarakat menebang pohon bakau serta melarang warga membuka kebun yang berjarak lebih dari 3 km dari badan jalan utama.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Kepiting untuk Kelestarian Bakau Enggano
Istimewa
Mengendarai sepeda motor trail Kawasaki KLX 150 milik Kodim 0423/Bengkulu Utara, Doni Monardo dan rombongan blusukan masuk hutan di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. 

Melihat potensi hutan bakau di seluruh Indonesia yang sekitar 3,6 juta hektare, mestinya kepiting bakau bisa menjadi komoditi unggulan Indonesia.

"Syaratnya, harus dibudidayakan. Hentikan pengambilan kepiting tanpa diikuti budidaya. Berapa pun banyaknya, kalau tidak dibudidayakan, kepiting akan habis," tambahnya.

Budidaya kepiting bakau seyogianya dibuat dengan memasang semacam keramba dari jaring dengan kualitas bagus.

Doni juga menyebutkan, kepiting memiliki pola hidup kanibal. Ia mencontohkan, dari 100 benih kepiting, yang berhasil tumbuh hingga layak panen, hanya sekitar 30 persennya saja.

"Kita juga harus menjaga agar yang dipanen adalah kepiting jantan dengan ukuran 400 gram," katanya.

Ke depan, Doni akan melibatkan pakar kepiting.

"Nanti akan kita buatkan pola budidaya yang baik dan benar. Termasuk pola pemberian makan. Ketika kepiting masih kecil-kecil, mungkin cukup sekali diberi pakan dalam sehari. Ketika sudah besar, bisa ditambah dua sampai tiga kali pemberian pakan. Makanan yang paling mudah didapat adalah sisa-sisa potongan kepala ikan, atau bagian ikan yang tidak diambil, dicacah-cacah lalu ditebarkan ke keramba," kata Doni.

Rekomendasi Untuk Anda

Jika semua berlangsung baik, dalam waktu 3 – 4 bulan sudah bisa mulai panen. Kita bisa lihat harga kepiting bakau paling murah Rp 70.000 per kg.

Makin besar ukuran, makin mahal, bisa ratusan ribu rupiah per kilogram.

Kalkulasinya sederhana, bahwa bakau adalah habitat yang sangat bagus untuk budidaya kepiting. Karenanya, dalam banyak kesempatan Doni menjadi orang yang paling lantang menentang penebangan bakau.

Kepiting Merah dan Selasih

Adalah Petrus Sutarjo, salah satu penggiat udang dan kepiting yang turut serta dalam rombongan Doni Monardo ke Enggano.

Petrus tak habis-habis memuji keutuhan hutan bakau di sana, sebagai habitat yang sangat bagus bagi kepiting.

Ihwal gagasan Doni Monardo mengembangkan budidaya kepiting, Petrus sangat setuju.

"Dari empat jenis kepiting yang hidup di perairan seluruh Indonesia, dua di antaranya ada di Enggano. Ini potensi yang luar biasa," ujar Petrus, pembudidaya udang vaname dan ikan bandeng di Saung Naga Soedirman, kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang.

Halaman 3/4

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas