Inspirasi Bung Karno bagi Milenial
Bung Karno merupakan pemikiran mendasar, memiliki basis teoritik dan empiris yang sangat kuat
Editor:
Eko Sutriyanto
Ia mampu meyakinkan rakyat tentang pentingnya kesadaran kebangsaan, sebagai syarat hadirnya persatuan.
Di situlah, inspirasi dan wawasan yang diperoleh melalui buku, melahirkan visi. Visi dijabarkan dalam tulisan. Tulisan memperkuat kesadaran. Kesadaran membangunkan semangat. Semangat melahirkan energi perjuangan.
Bagi Bung Karno, jalan kepemimpinan dibangun dengan menempatkan supremasi ilmu pengetahuan. Dari kepemimpinan intelektual, Bung Karno membangun budaya berpikir kritis.
Kepemimpinan intelektual Bung Karno mendorong dialektika dalam alam pikir, dan diolah melalui alam rasa sehingga lahirlah pikiran dan perbuatan yang bersifat progresif revolusioner bagi kemerdekaan bangsa Indonesia.
Milenial mesti berani membela persatuan bangsa. Bangsa Indonesia merupakan yang terlahir dalam satu kesadaran sebagai bangsa terjajah, bersama-sama bangsa Asia dan Afrika, yang menderita akibat praktik kolonialisme dan imperialisme. Dalam kaitan dengan tanah air Indonesia, Bung Karno membangun konsepsi kebangsaan Indonesia sebagai satu kesatuan tekad; satu kesatuan cita-cita; satu kesatuan ideologi; dan satu kesatuan kesadaran sosial.
Jawaban terhadap di mana posisi kita, Bung Karno menyampaikan analisis tajam, bahwa posisi Indonesia yang berada di antara dua samudra, yakni Samudra Hindia dan Sumudra Pasifik; serta di antara dua benua, yakni benua Australia dan Benua Asia.
Posisi silang yang sangat strategis ini menjadikan Nusantara sebagai jalur segala pergerakan kehidupan manusia. Dengan posisi strategis ini, seluruh ideologi besar dunia dan seluruh agama masuk ke Nusantara.
Terlebih dengan kekayaan rempah-rempah; kesuburan tanahnya; sumber daya alamnya; dan warisan budayanya. Menurut Bung Karno, Pancasila lahir dalam cara pandang geopolitik tersebut.
Salah satu fenomena dalam pemilu 2019 adalah penggunaan tribalisme agama dalam kampanye. Manipulasi sentimen tribalisme agama merupakan salah satu bentuk populisme yang marak digunakan dalam pemilu di berbagai macam tempat.
Sentimen tribalisme ini biasanya disesuaikan dengan kondisi tanah kultural tertentu yang siap dieksploitasi. Di India, sentimen ini berkaitan dengan chauvinisme Hindu. Di Eropa Utara, sentimen anti-imigrasi, sedangkan di Indonesia sentimen yang berkaitan dengan identitas agama. Eksploitasi sentimen tribal ini telah terbukti efektif dalam gelaran pilkada DKI Jakarta 2017, di mana kontestasi pemilihan berubah menjadi perang sentimen agama.
Dengan ideologi semacam inilah demokrasi menjadi turun reputasinya. Karena demokrasi elektoral itu bergantung pada preferensi pemilih.
Sementara preferensi pemilih dibentuk oleh pandangan kelompok berdasarkan fanatisme religius. Ketika proses elektoral ini diangkat dengan politik identitas sempit melebihi nilai-nilai yang berdasarkan kepentingan umum, kita mengetahui bahwa demokrasi dapat menghasilkan sesuatu yang buruk dan menakutkan.
Pemilu hendaknya menjadi sarana perwujudan kedaulatan rakyat dalam semangat persatuan, bukan justru memecah belah persatuan bangsa.
Dalam era demokrasi modern, pemilu merupakan instrumen rakyat memilih pemimpin secara langsung, umum, bebas dan rahasia, serta jujur dan adil. Negara Indonesia telah memilih sistem demokrasi untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dan keadilan sosial sesuai dengan Pancasila.
Dengan tidak bermaksud mengurangi bobot nilai sila-sila lain dalam Pancasila, mungkin tidak berlebihan kalau disebutkan sila “Persatuan Indonesia” mempunyai corak yang lebih heroik dibanding dengan sila-sila lainnya.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.