Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Inspirasi Bung Karno bagi Milenial

Bung Karno merupakan pemikiran mendasar, memiliki basis teoritik dan empiris yang sangat kuat

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Inspirasi Bung Karno bagi Milenial
HO
Benny Sabdo 

Para pendiri negara yang pada waktu itu merasakan betapa pedihnya menjadi bangsa yang terjajah, dengan bebagai ungkapan, mereka menggelorakan semangat untuk bersatu.

Mewakili suasana kebatinan terhadap persatuan, Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945  berkumandang sebagai berikut: “Kita hendak mendirikan negara “semua untuk semua”. Karena itu, jikalau tuan-tuan terima baik, marilah kita mengambil sebagai dasar yang pertama: Kebangsaan Indonesia.

Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia, yang bersama-sama menjadi satu nationale staat”.

Benih-benih nilai yang terkandung dalam semangat persatuan dimaksudkan untuk membebaskan bangsa Indonesia dari belengggu penjajah. Pada masa depan, diproyeksikan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.  

The last but not least, kepemimpinan Bung Karno ini sangat luar biasa. Terbukti membawa Indonesia merdeka dan diakui dunia. Bahkan, membebaskan bangsa-bangsa Asia-Afrika yang terjajah: Aljazair, Maroko, Tunia, Sudan.

Maka Bung Karno disebut pendekar dan pembebas bangsa Islam. Nah, kepemimpinan dengan kehebatan diplomasi dan strategis ini tidak datang dari langit. Tapi melalui suatu proses intelektual dan kerja keras.

Bung Karno sejak muda sudah indekos di rumah HOS Tjokroaminoto. Sekalipun dalam pembuangan, Bung Karno tetap belajar sembari mengenal bangsa Indonesia dengan berbagai budayanya.

Rekomendasi Untuk Anda

Jadi paduan antara proses tempaan (formasi) intelektual, perjuangan (aktivis) yang turun ke bawah dan kecintaan pada rakyat (bangsa Indonesia). Itulah yang melahirkan kepemimpinan negarawan Bung Karno.

Jadi milenial mari sejenak berpikir untuk bangsa, untuk negara. Sekali-sekali boleh lah menikmati hidup, tapi jangan lupa melek politik, tekun dalam belajar, aktif berorganisasi.

Kalau liburan sempatkan jalan-jalan ke pulau-pulau Indonesia, Sabang sampai Merauke supaya lebih mengenal budaya Nusantara.

Mari kita bangkitkan rasa cinta tanah air dengan segala kekayaannya; dengan identitas nusantaranya bukan dengan budaya asing.

Nasionalisme dibangun dengan kondisi kekinian. Selain itu, nasionalisme, rasa cinta tanah air ini mesti dipadu dengan daya kritis dan kekuataan intelektual dalam kepemimpinan nasional. Orang muda harus menggembleng diri sejak sekarang supaya mampu menjadi pemimpin di masa depan. Pegangan kita jelas, yakni Pancasila dan NKRI.

Tantangan kita sebagai bangsa sangat serius. Bukan soal retorika, tapi ini riil. Indonesia ini sangat kaya, saya sudah keliling Indonesia mulai dari Aceh sampai Papua. Bahkan bukan main kekayaan alam kita ini. Tapi ingat dibalik sumber daya nasional ini ada kerentanan strategis.

Negara-negara Barat sejak dulu jelas mengincar kita. Berbagai strategi, termasuk future war dengan teknologi dan proxy perlu diwaspadai. Termasuk ancaman radikalisme. Ancaman-ancaman tersebut serius. Soal masa depan sebagai bangsa, ancaman pulau-pulai terpecah juga riil. Pertarungan ini adalah nyata, dan kita generasi milenial harus siap menajdi garda terdepan penjaga NKRI dari “penjajahan” asing.

Di sinilah prinsip ideologis menjadi penting termasuk dengan segala nilainya, marhaenisme dan gotong royong. Merdeka!!!

Halaman 4/4

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas