Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Kembali ke Akar: Merajut Ulang Relasi Manusia, Lingkungan, dan Kota

Bestari Festival 2025 hadir di tengah krisis kota. Ajakan kembali ke akar, merajut ulang relasi manusia, lingkungan, dan ruang hidup.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Kembali ke Akar: Merajut Ulang Relasi Manusia, Lingkungan, dan Kota
ISTIMEWA
Bestari Festival 2025 hadir sebagai ruang reflektif di tengah krisis kota. Tiga zona akar, satu pesan: tumbuh tak harus besar. 

Firza Daud

Co-founder Bestari Festival

Humanitarian 

Creative Leadership

TRIBUNNEWS.COM - Di tengah krisis lingkungan yang kian nyata, ketimpangan sosial yang terus melebar, dan tekanan hidup perkotaan yang semakin menyesakkan, kebutuhan akan ruang aman untuk berhenti sejenak bukan lagi kemewahan melainkan urgensi. 

Bestari Festival 2025: Kembali ke Akar lahir dari kegelisahan itu. Sebuah ajakan untuk merajut ulang relasi manusia, lingkungan, dan kota melalui pengalaman yang bukan hanya kreatif, tapi juga penuh makna dan keberpihakan.

Waktu pertama kali kami mencetuskan Kembali ke Akar, kami sadar: ini bukan sekadar festival. Kami adalah pemain baru newbie di dunia festival kreatif industri Indonesia. Tapi justru dari posisi itulah kami bertanya: Apa yang bisa kami tawarkan yang belum ada?

Rekomendasi Untuk Anda

Kami lahir dari pengalaman sebagai penonton. Sering datang ke festival, duduk mendengarkan orang-orang hebat berbagi inspirasi, menyerap semangat.

Tapi lama-lama muncul pertanyaan: Festival kreatif sudah banyak. Festival inspiratif juga ada. Tapi adakah festival yang menggabungkan filosofi, makna mendalam, dan tata ruang yang hidup?

Kami ingin menciptakan panggung untuk orang-orang yang punya visi. Yang berani bicara soal keberlanjutan, meski banyak yang bilang isu itu “kurang seksi.” Padahal, manusia, lingkungan, dan alam adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Tema Kembali ke Akar muncul spontan, dari obrolan iseng kami bertiga di awal tahun. Tapi ternyata, ia punya daya. Kami ingin orang melihat kembali ke akar secara harfiah dan filosofis. Kami bawa referensi ruang seperti Blok M dan Kota Peruri ke tengah kota Jakarta.

Di sana, di gang-gang kecil, ada ruang hijau yang nyata. Ruang yang mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: 2025 mau ngapain? Sudahkah jadi warga negara yang baik dan benar?

Tiga Zona, Tiga Lapisan Makna

Pada 20 September, kami hadirkan tiga zona utama yang merepresentasikan struktur akar:

Zona Jaga (Akar Rambut)  “Contain to Sustain”

Halaman 1/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas