Musik Religi: Antara Pasar, Jiwa, dan Keabadian Makna
Musik religi bukan sekadar hiburan musiman, tapi napas spiritual yang layak hidup sepanjang waktu—bukan hanya saat hari raya.
Editor:
Glery Lazuardi
Dari Musim ke Kesadaran
Musik religi seharusnya tidak tunduk pada kalender. Spiritualitas tidak mengenal musim. Ia hidup di dalam jiwa, bukan di dalam iklan. Seperti yang diingatkan filsuf eksistensialis Søren Kierkegaard, “Keberagamaan sejati bukan sistem, melainkan cara hidup.” Maka, musik religi sejati bukanlah pertunjukan tahunan, tetapi kesaksian batin yang terus berdenyut sepanjang waktu.
Kita perlu menumbuhkan kesadaran baru bahwa musik religi bukan hanya produk rohani, tetapi juga ruang dialog antara manusia dan kemanusiaannya sendiri. Ketika musik religi kembali ditempatkan sebagai bahasa jiwa, bukan alat promosi, ia akan menemukan bentuk aslinya: lembut, jujur, dan abadi.
Menemukan Ruh yang Hilang
Di tengah derasnya arus digital dan budaya instan, musik religi mengingatkan kita bahwa manusia tetap makhluk spiritual yang rindu keheningan. Tugas seniman adalah menjaga keheningan itu agar tidak lenyap dalam kebisingan zaman.
Jika masyarakat dan negara mampu membangun ekosistem yang menghargai spiritualitas dalam seni, maka para musisi religi tidak lagi akan disebut sebagai “pekerja musiman”, melainkan penjaga jiwa bangsa.
Sebab, seperti kata penyair sufi Amir Khusrow, “Musik yang lahir dari jiwa, akan kembali ke jiwa.”
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan