Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Menjahit Ilmu, Teknologi, dan Kemanusiaan

Budaya penelitian jadi kunci mutu perguruan tinggi, penggerak inovasi, dan fondasi mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Menjahit Ilmu, Teknologi, dan Kemanusiaan
TRIBUNJAKARTA.COM/DIONSIUS ARYA BIMA SUCI
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA - Peneliti muda di laboratorium kampus tengah mengamati hasil eksperimen. Budaya riset yang kuat menjadi fondasi kemajuan pendidikan tinggi dan daya saing bangsa. 

Iwan Sugihartono & Hery Budiawan

Iwan Sugihatono

Guru Besar, Program Studi Fisika, Universitas Negeri Jakarta

Hery Budiawan

Dosen Program Studi Magister Pendidikan Seni, Universitas Negeri Jakarta

TRIBUNNEWS.COM - Dalam konteks global yang semakin kompetitif, perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan tinggi seyogyanya tidak lagi sekadar berperan sebagai wadah kegiatan akademis (perkuliahan).

Namun seharusnya mampu mengoptimalkan perannya melalui kegiatan tridarma serta menjadi penggerak utama dalam menciptakan pengetahuan baru yang langsung berdampak pada masyarakat, kebijakan, dan kemajuan negara.

Rekomendasi Untuk Anda

Di sinilah relevansi budaya penelitian menjadi sangat penting. Sehingga, penelitian bukan hanya sekadar memenuhi kewajiban tridarma, tetapi juga berperan sebagai fondasi utama eksistensi pendidikan tinggi saat ini.

Dalam lanskap global yang kian kompetitif, perguruan tinggi tidak lagi cukup berperan sebagai “pabrik ijazah” atau ruang kuliah formal.

Perguruan tinggi seharusnya menjadi ruang penciptaan makna, tempat di mana ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemanusiaan dijahit menjadi satu kesatuan utuh.

Di sinilah peran riset menjadi pondasi: ia bukan sekadar pelengkap tridarma, melainkan denyut nadi dari sebuah peradaban ilmu.

Namun dalam praktiknya, banyak perguruan tinggi di Indonesia masih menjadikan penelitian sebagai syarat administratif sebagai upaya kenaikan jabatan, akreditasi, atau sekadar memenuhi laporan kegiatan.

Dalam pandangan filsuf pengetahuan seperti Jürgen Habermas, pengetahuan seharusnya tidak berhenti pada technical interest (kepentingan teknis), tetapi harus mencapai emancipatory interest sebagai kendaraan bahwa ilmu pengetahuan bertujuan akhir pada pembebasan manusia.

Maka, riset yang sejati bukan hanya berbicara tentang efisiensi dan produktivitas, melainkan juga tentang nilai, makna, dan pembebasan manusia dari ketidaktahuan dan ketidakadilan.

Seiring hadirnya teknologi kecerdasan buatan dan revolusi digital, hubungan antara manusia dan pengetahuan sedang diuji.

Halaman 1/4

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas