Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Menjahit Ilmu, Teknologi, dan Kemanusiaan

Budaya penelitian jadi kunci mutu perguruan tinggi, penggerak inovasi, dan fondasi mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Menjahit Ilmu, Teknologi, dan Kemanusiaan
TRIBUNJAKARTA.COM/DIONSIUS ARYA BIMA SUCI
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA - Peneliti muda di laboratorium kampus tengah mengamati hasil eksperimen. Budaya riset yang kuat menjadi fondasi kemajuan pendidikan tinggi dan daya saing bangsa. 

Budaya Penelitian sebagai Kunci Mutu dan Inovasi

Bagi perguruan tinggi, budaya penelitian bukan hanya pilihan, melainkan keharusan. Penelitian menjadi tolok ukur kinerja akademik dan sosial, serta penentu nilai tambah institusi.

Semakin produktif dan relevan penelitian yang dilakukan, semakin kuat posisi perguruan tinggi dalam peta pendidikan nasional dan internasional. Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi menempatkan penelitian sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem penjaminan mutu internal dan eksternal.

Perguruan tinggi wajib mengembangkan standar penelitian berbasis capaian serta mengevaluasi dampaknya secara berkelanjutan. Dengan demikian, budaya penelitian berdampak menuntut reformasi institusi secara menyeluruh: membangun ekosistem akademik yang kolaboratif, multidisipliner, transdisipliner dan berorientasi solusi.

Deep Learning dalam Riset: Menyelam ke Lapisan Makna

Dalam konteks pendidikan tinggi, istilah “deep learning” sering disalahartikan hanya sebagai teknologi kecerdasan buatan. Padahal, dalam pedagogi modern, deep learning juga berarti pendalaman konsep dan pemaknaan dalam proses belajar—berbeda dari surface learning yang hanya berfokus pada hafalan dan prosedur.

Konsep ini menekankan bahwa mahasiswa dan peneliti tidak hanya mengumpulkan data, tetapi memahami pola, relasi, dan makna di balik data itu sendiri. Mereka belajar untuk bertanya: “mengapa” sesuatu terjadi, bukan sekadar “bagaimana”.

Rekomendasi Untuk Anda

Dalam riset pendidikan seni, misalnya, pendekatan deep learning dapat memadukan metode kuantitatif dan kualitatif secara reflektif: bukan hanya mengukur hasil belajar, tetapi menafsirkan pengalaman estetik, persepsi, dan nilai kemanusiaan di dalamnya.

Pendekatan ini selaras dengan penelitian transdisiplin, di mana batas antara ilmu alam, sosial, dan seni menjadi cair.

Deep learning juga menjadi jembatan antara manusia dan teknologi. Melalui AI, machine learning, dan data analytics, peneliti kini dapat mengolah big data untuk menemukan pola sosial, ekologi, atau musikal yang sebelumnya tak terbayangkan. Namun, tanpa kedalaman etika dan refleksi humanistik, semua kecanggihan itu bisa kehilangan arah.

Seperti kata Heidegger, teknologi adalah cermin yang memperlihatkan bagaimana manusia memahami dirinya sendiri. Maka, deep learning sejati adalah proses “menyelam ke dalam diri manusia untuk memahami makna dari pengetahuannya.”

Penelitian Transdisiplin sebagai Arah Baru Inovasi

Dalam menghadapi kompleksitas persoalan global, pendekatan penelitian monodisiplin sering kali tidak cukup. Tantangan seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, kesehatan masyarakat, hingga transformasi digital menuntut sinergi lintas bidang ilmu.

Di sinilah peran penting penelitian transdisiplin muncul sebagai pendekatan baru yang mampu menjembatani dunia akademik, industri, dan masyarakat.

Penelitian transdisiplin tidak hanya menggabungkan beberapa disiplin ilmu, tetapi juga mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan kearifan lokal, praktik sosial, dan pengalaman komunitas. Model ini menempatkan masyarakat bukan sekadar objek, tetapi mitra sejajar dalam proses penciptaan pengetahuan. Dengan demikian, hasil penelitian menjadi lebih relevan, kontekstual, dan berdampak langsung.

Pendekatan ini sejalan dengan semangat Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang mendorong kolaborasi lintas sektor dan lintas disiplin. Dalam seni, budaya, dan teknologi, penelitian transdisiplin membuka ruang eksplorasi baru yang menggabungkan sains, humaniora, dan kreativitas digital untuk menghasilkan inovasi berbasis nilai kemanusiaan.

Oleh karena itu, dukungan kebijakan riset yang fleksibel, sistem insentif kolaboratif, dan pengakuan terhadap luaran non-tradisional seperti paten sosial dan model inovasi komunitas menjadi sangat penting.

Pendekatan transdisiplin adalah masa depan penelitian yang lebih terbuka, inklusif, dan berdampak langsung pada keberlanjutan bangsa. Dengan memperkuatnya, perguruan tinggi Indonesia tidak hanya akan menjadi pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga pusat perubahan sosial yang bermakna.

Pondasi Indonesia Emas 2045

Penelitian menjadi fondasi utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, menjadikan Indonesia negara maju, berdaulat, dan berdaya saing global. Melalui ekosistem penelitian yang kuat, perguruan tinggi dapat membangun sumber daya manusia unggul dan teknologi mutakhir yang menopang ekonomi berbasis pengetahuan.

Ketika penelitian terintegrasi dengan pendidikan dan pengabdian, akan lahir lulusan yang kompeten secara teknis, reflektif, adaptif, dan solutif. Membangun budaya penelitian berdampak memang bukan proses instan, tetapi investasi jangka panjang yang akan menentukan arah masa depan bangsa.

Kini saatnya pendidikan tinggi di Indonesia bertransformasi dari menara gading menjadi pusat inovasi dan solusi, untuk mewujudkan bangsa yang mandiri, tangguh, dan berdaulat secara paripurna.

Menjahit Masa Depan

Membangun budaya penelitian berdampak bukan pekerjaan semalam. Ia memerlukan keberanian epistemologis, ketekunan moral, dan komitmen jangka panjang. Perguruan tinggi Indonesia harus menempatkan riset bukan sebagai beban administratif, melainkan sebagai panggilan intelektual dan moral.

Di era ketika teknologi dapat meniru kecerdasan manusia, justru kedalaman refleksi dan empati yang akan membedakan kita. Masa depan riset Indonesia bergantung pada kemampuan kita menjahit ilmu, teknologi, dan kemanusiaan menjadi satu tenunan yang utuh menjadi tempat pengetahuan menjadi jalan menuju kebaikan bersama.

Referensi

WIPO. (2024). Global Innovation Index 2024.

UNESCO Institute for Statistics. (2023). Researchers per Million Inhabitants.

Scopus. (2024). Country Publication Output – Indonesia.

Senge, P. (1990). The Fifth Discipline: The Art and Practice of the Learning Organization.

Habermas, J. (1971). Knowledge and Human Interests.

Heidegger, M. (1977). The Question Concerning Technology.

Kuhn, T. S. (1962). The Structure of Scientific Revolutions.

Bourdieu, P. (1984). Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste.

BRIN. (2022). Peta Jalan Riset Nasional.

Bappenas. (2023). RPJMN 2025–2029 

Halaman 4/4

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas