Menjahit Ilmu, Teknologi, dan Kemanusiaan
Budaya penelitian jadi kunci mutu perguruan tinggi, penggerak inovasi, dan fondasi mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Editor:
Glery Lazuardi
Apakah penelitian hanya menjadi alat pengumpulan data yang dikendalikan algoritma, atau masih menjadi jalan menuju kebijaksanaan (phronesis) sebagaimana ditekankan Aristoteles? Inilah tantangan moral dan intelektual terbesar pendidikan tinggi kita.
Melalui semangat penelitian berdampak yang telah dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, perlu sekali adanya interkoneksi antara kegiatan penelitian, inovasi, dan teknologi dengan tuntutan masyarakat, sektor industri, serta pembangunan nasional.
Dalam hal ini, penelitian diharapkan tak lagi sekadar memenuhi tanggung jawab tridarma, melainkan mampu memberikan dampak multidimensi sebagai penggerak utama transformasi sosial, ekonomi, dan ilmiah.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah menggaungkan semangat “penelitian berdampak” sebuah arah baru agar penelitian tidak berhenti di meja akademik, tetapi menjelma menjadi kebijakan, inovasi, dan perubahan sosial.
Namun, untuk mencapai itu, kita perlu menata ulang budaya riset, struktur pendanaan, serta etos ilmiah yang menempatkan manusia dan nilai kemanusiaan di pusatnya.
Tantangan Dasar
Sayangnya, budaya penelitian di banyak perguruan tinggi di Indonesia masih menghadapi tantangan mendasar.
Salah satu masalah utama pendidikan tinggi Indonesia adalah adanya kesenjangan dalam akses terhadap sumber daya riset, baik antar wilayah maupun antar perguruan tinggi.
Kesetaraan belum sepenuhnya tercapai. Tantangan lain adalah perlunya sistem keadilan untuk memastikan bahwa perguruan tinggi dengan keterbatasan sumber daya tetap memiliki peluang berkembang secara adil melalui dukungan afirmatif dalam pendanaan, kolaborasi, dan penguatan kapasitas.
Paradigma lain yang menjadi tantangan adalah aktivitas penelitian sering kali dianggap sebagai syarat administratif untuk kenaikan jabatan fungsional atau akreditasi institusi.
Akibatnya, banyak hasil penelitian tidak berlanjut menjadi publikasi yang dapat diakses secara luas, inovasi teknologi, atau kebijakan berbasis data.
Tidak sedikit penelitian berhenti pada laporan akhir tanpa adanya transformasi sosial maupun kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.
Times Higher Education (THE) dan QS World University Rankings menempatkan kinerja penelitian sebagai salah satu pilar utama penilaian. Termasuk di dalamnya adalah jumlah publikasi ilmiah bereputasi, sitasi internasional, kolaborasi lintas negara, dan dampak penelitian terhadap kenyataan di lapangan.
Tak jarang, laporan penelitian berhenti sebagai tumpukan dokumen. Tidak ada kesinambungan antara hasil riset, kebijakan kampus, dan kebutuhan masyarakat.
Padahal, menurut Thomas Kuhn, ilmu hanya tumbuh jika terjadi paradigm shift sebagai pergeseran cara pandang yang radikal. Perguruan tinggi di Indonesia perlu keberanian epistemologis untuk keluar dari tradisi riset administratif menuju riset reflektif dan transformatif.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.