Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Jamur: Penjaga Sunyi Hutan Indonesia yang Terlupakan

Indonesia, menopang ekosistem lewat miselium dan peran vital yang sering terlupakan.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Jamur: Penjaga Sunyi Hutan Indonesia yang Terlupakan
Freepik
ILUSTRASI JAMUR. Gambar merupakan ilustrasi yang diambil dari Freepik, Kamis (19/6/2025). Di balik sunyi lantai hutan, jamur bekerja tanpa sorotan. Mereka bukan sekadar pengurai, tapi jantung kehidupan yang menyambung ekosistem. 

Meilinda Pahriana Sulastri

  • Mahasiswa S3, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada
  • Dosen Fakultas MIPA, Universitas Islam Al-Azhar, Mataram, NTB

Domisili: Jl. Rusunawa Mranggen, Kutu Tegal, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

TRIBUNNEWS.COM - Hutan Indonesia selalu disebut sebagai paru-paru dunia, tetapi jarang ada yang berbicara tentang “jantungnya” yaitu makhluk kecil yang menjaga kehidupan tetap berdenyut di bawah tanah. 

Mereka tidak berkicau seperti burung, tidak berlari seperti harimau, dan tidak berdaun seperti tumbuhan. Namun tanpa mereka, hutan Indonesia tidak akan mampu bertahan. 

Mereka adalah jamur atau fungi, organisme yang selama ini bekerja dalam diam menjaga keseimbangan ekosistem di alam. 

Jamur bertugas sebagai pengurai yang mengubah sisa-sisa organisme menjadi unsur hara baru. Tanpa peran ini, lantai hutan akan dipenuhi tumpukan daun dan ranting mati, tanah kehilangan kesuburannya, dan rantai makanan terganggu. 

Jamur adalah “petugas kebersihan” sekaligus penyedia nutrisi bagi ekosistem, tetapi ironisnya, mereka hampir tak pernah masuk dalam wacana konservasi nasional.

Rekomendasi Untuk Anda

Jika kita menunduk dan memperhatikan tanah hutan, akan terlihat benang-benang putih halus bernama miselium. Jaringan ini dapat menjalar hingga puluhan meter, menghubungkan akar-akar pohon dalam sistem komunikasi bawah tanah. 

Melalui miselium ini pohon saling berbagi nutrisi, air, bahkan sinyal kimia untuk menjaga keseimbangan.

Ilmuwan menyebutnya sebagai “wood wide web” yaitu jaringan kehidupan yang menjadikan hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan komunitas yang saling menopang.

Peran jamur juga melampaui ekosistem hutan. Dalam pertanian, jamur mikoriza membantu tanaman menyerap air dan mineral, sehingga hasil panen lebih optimal. Bagi manusia, jamur telah lama menjadi sumber pangan, obat, hingga bahan industri ramah lingkungan. 

Penemuan antibiotik penisilin adalah bukti nyata kontribusi jamur bagi kesehatan. Penelitian modern bahkan mengembangkan miselium sebagai bahan kulit sintetis dan bioplastik yang dapat terurai alami. 

Dunia mulai melihat jamur sebagai solusi masa depan, sementara Indonesia masih tertinggal dalam mengenali potensinya.

Laporan State of The World Plant and Fungi (Kew Gardens, 2023) mengestimasikan terdapat 2,5 juta spesies jamur di seluruh dunia. Jamur menjadi organisme penghuni Bumi

terbanyak kedua setelah hewan. Hingga saat ini baru 155.000 spesies jamur yang berhasil diidentifikasi dengan lebih dari 2500 spesies diklasifikasikan sebagai spesies baru setiap tahunnya. 

Halaman 1/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas