Negara Hadir di Setiap Suapan
Pengawasan obat dan makanan adalah wujud hadirnya negara, menjamin keamanan, mutu, dan masa depan bangsa.
Editor:
Glery Lazuardi
Akbar Endra
Staf Ahli Kepala Badan POM Republik Indonesia Bidang Medsos dan Komunikasi Publik
Seorang ibu muda pernah bercerita tentang kegelisahannya saat memilih makanan pendamping ASI bagi bayinya. Di depan rak pasar swalayan yang penuh dengan berbagai merek, ia terdiam cukup lama.
Pertanyaannya sederhana: mana yang betul-betul aman untuk anaknya? Ia sadar, setiap suapan yang masuk ke mulut bayi bukan hanya mengenyangkan, tetapi ikut membentuk masa depannya.
Kegelisahan itu mungkin tidak pernah diucapkan lantang. Namun ia hadir dalam pikiran banyak orang tua, para lansia, serta pasien dengan penyakit kronis.
Makanan dan obat memang tampak sebagai bagian biasa dari kehidupan sehari-hari. Kita membelinya, mengonsumsinya, lalu meneruskan aktivitas tanpa banyak tanya. Tetapi bagi kelompok yang rentan, apa yang masuk ke tubuh adalah penentu kualitas hidup, bahkan keberlangsungan hidup itu sendiri.
Di sinilah sesungguhnya negara diuji. Apakah negara hadir memastikan bahwa setiap produk yang beredar aman, bermutu, dan bermanfaat? Ataukah warga dibiarkan berjalan sendiri di tengah pasar yang makin kompleks dan kompetitif?
Masa Depan dalam Setiap Suapan
Bayi adalah kelompok paling rapuh dalam masyarakat. Mereka tidak memiliki kemampuan menilai keamanan pangan. Segala keputusan ada di tangan orang dewasa — dan di dalam sistem yang seharusnya melindungi mereka.
Bila mutu makanan bayi tidak terjamin, dampaknya bukan hanya sakit sesaat. Ia dapat memengaruhi tumbuh kembang, kecerdasan, dan kualitas hidup hingga bertahun-tahun ke depan.
Jika hal itu terjadi secara luas, yang terancam bukan lagi individu, tetapi kualitas generasi bangsa. Karena itu, pengawasan makanan bayi bukan urusan teknis belaka, melainkan bagian dari investasi kemanusiaan.
Bagi ibu hamil, setiap keputusan mengenai makanan dan obat memiliki konsekuensi ganda. Apa yang dikonsumsi ibu akan berdampak langsung pada janin. Kelalaian kecil dapat berakibat besar. Dalam situasi seperti ini, kepastian mutu bukanlah kemewahan. Ia adalah kebutuhan yang melindungi dua kehidupan sekaligus.
Lansia menghadapi tantangan yang berbeda. Penurunan fungsi tubuh membuat mereka lebih rentan terhadap zat berbahaya atau interaksi obat.
Banyak dari mereka mengonsumsi obat setiap hari. Keamanan produk, dalam hal ini, bukan tambahan. Ia adalah bagian dari hak dasar untuk hidup sehat.
Begitu pula bagi pasien dengan penyakit kronis. Obat menjadi bagian dari keseharian. Bila obat yang mereka minum tidak bermutu atau bahkan palsu, yang dipertaruhkan bukan hanya keberhasilan terapi, tetapi juga harapan untuk mempertahankan kualitas hidup.
Pengawasan sebagai Wujud Kehadiran Negara
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, *Prof Taruna Ikrar* , menegaskan bahwa pengawasan obat dan makanan merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam melindungi masyarakat. Pengawasan tidak dimaksudkan untuk menghambat pelaku usaha, melainkan memastikan bahwa setiap produk yang beredar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dari sisi keamanan, mutu, dan khasiat.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.